Di sebuah pagi yang dingin, saya ditemani secangkir kopi yang masih panas sambil pelan-pelan menempelkan ujung-ujung jari ke sisi cangkir untuk menghangatkan tangan yang masih kaku.
Kopi Gayo yang terkenal dengan aromanya yang nikmat itu lalu saya seruput perlahan sambil memandangi hamparan danau di depan saya. Bukit -bukit berbaris mengelilingi danau yang masih terselimuti kabut tipis itu. Di perbukitan inilah kopi yang saya minum pagi ini berasal. Tepatnya di kota Takengon, Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah.
Berjarak lima jam perjalanan darat dari kota Banda Aceh, Takengon berada di ketinggian 1.100 m di atas permukaan laut. Sebuah tempat yang ideal untuk menghasilkan biji kopi yang berkualitas. Tak heran bila kopi dari daerah ini menjadi langganan bertahun-tahun bagi sebuah perusahaan kopi terkenal dari Amerika dengan label “Sumatera Coffee”.
Kalau Anda mesti membayar Rp 30.000 untuk secangkir kopi tersebut di coffee shop, di sini Anda bisa mendapatkan satu kilo biji kopi dengan harga Rp 50.000. Sebuah kemewahan tiada tara.
Biji kopi ini bisa dibeli di pasar-pasar setempat, atau apabila ingin mendapatkan kualitas ekspor, Anda bisa langsung mengunjungi tempat penggilingan kopi yang tersebar di pinggiran kota. Pastikan Anda meminta kopi dengan Grade A sebelum dibawa ke luar negeri.
Selain penghasil kopi, Takengon menyimpan keindahan alam yang banyak menarik wisatawan untuk sekadar menimati keindahannya.
Perjalanan dari Banda Aceh menuju Takengon misalnya, merupakan hal yang sayang untuk dilewatkan sambil tidur. Bukalah mata Anda lebar-lebar ketika melintasi pegunungan, sabana, dan lembah-lembah di sekitar dataran tinggi Gayo, yang terkenal dengan sebutan orang setempat sebagai “negeri di atas awan”. Anda akan terpesona oleh betapa terjaganya hutan di daerah ini. Masih alami tak tersentuh
Kalau Anda beruntung, dari kejauhan kadang tampak “si belang” harimau Sumatra yang biasanya bertengger di puncak bukit di sore hari.
Di Takengon sendiri, banyak cara untuk menikmati udara sejuk dan ketenangan Danau Laut Tawar. Bisa dengan duduk santai di kafe di tepi danau, atau dengan menyusuri bukit di sela-sela perkebunan kopi dan pohon-pohon cemara.
Tempat terbaik untuk menikmati pemandangan Takengon adalah sebuah tempat di bukit tertinggi bernama Patan Terong. Dari sini kita bisa melihat secara keseluruhan danau, kota, dan perbukitan yang mengelilinginya.
Di tempat ini terdapat sebuah rumah panggung tanpa dinding yang dijaga oleh sebuah keluarga yang mengelola warung sederhana. Dengan keramahan keluarga itu saya diizinkan untuk bermalam di sini.
Malam yang dingin mengigit tulang, terbayarkan dengan sebuah tontonan konfigurasi alam yang menghipnotis, bagai orkestra di pagi hari. Tentunya sambil nyeruput kopi. Sluuuurpp!