Sinar mentari enggan menyapa di Minggu pagi, (27/11) sebab rintik hujan membasahi jalanan kota Banda Aceh. Dari Jalan Fatahillah Geuche Kayee Jatho menuju Sekolah Menengah Umum Negeri (SMUN) Nomor 2 Banda Aceh, telah berkumpul sejumlah anggota Siswa Pencinta Alam (Sispala) SMUN 2 yang memiliki agenda memasang sebuah plank nama pada makam Syech Hamzah Al-Fansyuri Al-Farisyi atau biasa disebut 'Makam Tgk. Ujong Pancu'.
Syech Hamzah Al-Fansyuri Al-Farisyi adalah Ulama Sufi yang berasal dari Fansur / Aceh Singkil, seorang ulama yang syair-syair karangannya hingga kini menjadi bahan kajian para ilmuwan, terkenal pada masa kejayaan kerajaan Aceh pada abad ke 17. Kegiatan konservasi situs sejarah, konservasi lingkungan dibarengi pembinaan atlit panjat tebing / Climbling, merupakan beberapa kegiatan yang menjadi fokus Sispala SMUN 2 Banda Aceh yang berdiri tahun 1994 tersebut.
Fitrian Umyuddin alias Boy Bolang, pembina serta mantan Ketua Sispala SMUN 2 tahun 2001, kepada The Globe Journal mengatakan, " Anggota Sispala SMUN 2 saat ini berjumlah 17 orang, dengan komposisi 7 Putera dan 8 Puteri, mereka diarahkan kemari agar selain menjelajahi situs sejarah yaitu juga melakukan konservasi situs-situs sejarah, aksi bakti sosial ini adalah salah satu bentuknya, saya dibantu saudara Ilham Nasir dari Rampagoe, alumni SMUN 2 yang terus mentransfer ilmu kepada adik-adik Sispala,"jelasnya bersemangat.
Dalam rombongan tersebut juga terlihat, Teuku Irwan Djohan, kandidat Walikota Banda Aceh periode 2012 - 2017 dari Jalur Independen yang mengaku datang atas informasi salah seorang Alumni SMUN 2. Ketika The Globe Journal meminta tanggapannya terhadap kegiatan Sispala SMUN 2 tersebut, ia menjawab, " Kegiatan seperti ini seringkali membuat saya bangga dan terharu, melihat anak-anak muda yang melakukan bakti sosial merawat tempat bersejarah, apalagi pencinta alam itu khan kerjanya bukan hanya camping atau naik-naik gunung, tapi kegiatan belajar langsung di alam raya serta melakukan kegiatan yang positif lainnya, merupakan hal yang perlu ditiru siswa atau remaja lainnya,"terangnya.
Menjelang tibanya logistik nasi bungkus untuk santap siang, Mawardi Hasan, Dosen Bahasa Inggris FKIP Unsyiah, segera dimintakan penjelasannya soal literatur sejarah Syech Hamzah Al-Fansyuri Al-Farisyi di atas bale yang terletak persis disamping makam ulama besar tersebut.
Ia berkisah menceritakan, " Aceh pada zaman kerajaan dahulu pernah eksis dan terkenal hingga pelosok dunia. Syech Hamzah Al-Fansyuri Al-Farisyi adalah salah satu ulama yang nama dan karya tulisannya di baca berbagai bangsa di dunia".
Makam Syech Hamzah Al-Fansyuri ini sempat hampir hilang, syukurlah pak Edi Purwanto, mantan Deputi Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh - Nias bidang Agama dan Kebudayaan berinisiatif melakukan perawatan pada masa itu, jelasnya.
Banyak makam atau situs sejarah di Aceh yang tidak terawat, karena pertama makam-makam tua tersebut tidak dikenal makamnya siapa? Kedua makam raja-raja atau ulama-ulama itu tidak ada ahli warisnya lagi. Ke empat karena orang Aceh tidak mengkultuskan kuburan dan seringnya situs sejarah ini dijadikan proyek semata. Artinya kalau di Jawa, dongeng Nyi Roro Kidul bisa jadi sejarah, di Aceh sejarah malah jadi dongeng!"tegasnya.
Penelitian Komprehensif dan terencana dari peneliti lokal, nasional bahkan internasional yang bukan 'Project Oriented' perihal asal usul situs-situs sejarah zaman kerajaan Aceh yang berserakan dan sebagian terhimpit dan terdesak derap laju pembangunan khususnya kota Banda Aceh, sepertinya segera harus dilakoni. Sebelum satu persatu situs tersebut hilang seperti literatur tertulis yang kini justru berada di Eropa, Jepang, Amerika, Malaysia serta negara lainnya.
Menjelajahi makam Syech Hamzah Fansuri menjadi sangat bermakna bagi para anak muda siswa sekolah tersebut. Hari ini mereka mendapat pembelajaran dari para ahli sejarah tentang bagaimana nenek moyang Aceh membangun negeri ini. Negeri para ulama, tempat para pahlawan menebas penjajah. Semua ini sudah selayaknya harus dihargai.
Redaksi: Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25