THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Feature»Menikmati Piasan Menjelang Ramadhan


Menikmati Piasan Menjelang Ramadhan
Muhajir Juli I The Globe Journal
Selasa, 26 Juli 2011 00:00 WIB
Bireuen - Jarum jam menunjukkan angka 21.00 WIB. Lapangan Blang Asan Kota Matangglumpangdua Kecamatan Peusangan, Selasa malam (26/7) mulai ramai didatangi oleh anak-anak dan orang dewasa. Di area yang tidak begitu luas itu, digelar berbagai barang seperti baju, mainan, sepatu, sampai makanan kelas tendapun disediakan.

Ditengah-tengah lapangan sebuah komedi putar yang berukuran lumayan besar sedang asyik berputar sambil membawa para "penumpangnya" keliling "dunia". Suasana yang riuh oleh suara tawa dan bentuk kegembiraan lainnya semakin membuat rasa khayal meninggi. Seolah-olah kita sedang tidak di Aceh.

Fitri (24) yang datang bersama suaminya ke pasar malam tersebut dengan cekatan langsung mencoba komedi putar. Dengan modal tiket Rp.5000 per orang, perempuan berkulit putih itu sambil mengandeng tangan suaminya menaiki tangga komedi putar. Setelah sampai di atas, petugas membuka pintu besi dan dengan hati-hati memandu pasangan pengantin baru itu naik ke bangku perangkat "peulale hate" itu.

Setelah mereka duduk, komedi itu langsung berputar horizontal. Terlihat tangan Fitri menggenggam erat besi tengah yang berfungsi sebagai tempat dipasangnya payung atap. Lima menit kemudian dia beserta suaminya turun. Saat didekati The Globe Journal Fitri langsung tersenyum sambil menggeleng-geleng kepala karena pusing. "Pusing banget bang, rasanya hampir muntah karena baru pertama merasakan putaran komedi putar itu," kata Fitri sambil melihat kearah sang suami. Suami Fitri kelihatan senyum-senyum kecil.

Pasar malam yang digelar di lapangan sepak bola Gampong Blang Asan tersebut, selain menyediakan komedi putar model horizontal juga menyediakan yang model putarannya seperti roda mobil. kemeriahan nampak sekali terlihat dari tawa dan teriakan riuh rendah dari orang-orang yang baru pertama merasakan putarannya. Namun ada juga yang duduk biasa saja sambil ngobrol kecil.

Ardi (20) salah seorang pekerja yang khusus menjaga komedi putar kepada The Globe Journal mengakui rata-rata pengisi gubuk-gubuk tempat berjualan adalah pedagang pasaran dari Medan. Mereka khusus berjualan di tempat-tempat hiburan malam kelas kampung. " Kita punya segmen sendiri bang, Biasanya yang kita kejar hiburan malam yang dibuka di kampung-kampung," Kata Ardi sambil terus mengikat baut yang mulai longgar.

Saat disinggung siapa saja yang boleh berjualan di arena itu, dengan wajah yang berpeluh dia menjawab bahwa tidak sembarang orang boleh berjualan. Sebab semua pedagang itu satu paket. Artinya memang dari pertama pasar itu direncanakan dibuat, mereka sudah berkomitmen untuk berjualan baik untung maupun rugi. Yang diperbolehkan berjualan selain mereka adalah penjaja makanan.

"Untuk dagang baju, sandal dan lainnya termasuk perhiasan dan perlengkapan dapur, itu memang orang-orang kita satu paket. Jadi tidak boleh orang lain. Sebab kami sudah berkomitmen sejak rencana pembukaan tempat itu. Kan tak mungkin kan bang, kami yang siap untung rugi, orang lain yang ambil untung saja. Kecuali untuk penjual makanan. Itu boleh siapa saja. Sebab kita juga menghormati orang disini," tambah Ardi.

Lukman hakim (40) yang datang bersama kedua anaknya yang masih usia SD kepada The Globe Journal mengatakan dia mengunjungi tempat-tempat hiburan sebagai "balas dendam" menjelang Ramadhan. Sebab bulan puasa nanti fokus umat muslim adalah ibadah, jadi tak ada waktu untuk menikmati hiburan yang bisa mengumpulkan orang banyak seperti pasar malam.

"Saya kesini untuk mencari hiburan. Hitung-hitung balas dendam. kan saat puasa kegiatan hiburan sambil berbelanja seperti ini tidak ada lagi. Selain itu juga untuk mengajak main anak saya. daripada dirumah gangguin mamanya terus," kata Lukman Hakim sambil tertawa lepas dan menepuk bahu The Globe Journal.

Hal yang sama juga disampikan oleh Anita. Menurut pelajar SMA ini dia datang kepasar malam bersama teman-temannya untuk menikmati "piasan" sebelum Ramadhan. kepada The Globe Journal dia mengatakan akan mencoba semua fasilitas yang ada demi kepuasannya. Dia tidak peduli uang dikantong akan habis. "saya tak peduli uang habis, yang penting heppy. Kan uang memang untuk dihabiskan. apalagi ini hiburan yang posistif Hitung-hitung refresh menjelang bulan suci. Rasanya seperti sedang tidak di Aceh," Kata Anita sambil diikuti tawa teman-temannya. Saat ditanya mengapa dia mengatakan demikian, Anita menjawab "kan bang kalau ditempat kita ini sebentar-bentar razia. Seolah-olah yang datang kesini hanya untuk berbuat mesum," katanya dengan nada agak cemberut.

Namun sepertinya harapan Anita dan teman-temannya untuk menikmati semua fasilitas yang disediakan tidak terkabul. Sebab baru beberapa saat  beranjak dari hadapan gadis muda itu, hujan deras turun. Para pedagang pun disibukkan dengan kegiatan menyelamatkan barang dagangan.









Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close