Minggu (23/10) siang, rintik hujan membasahi kota Banda Aceh dan Aceh Besar. Titik-titik air yang semula disebut gerimis, kian bertambah volumenya saat perjalanan menuju Lhoknga membuat The Globe Journal harus berteduh di salah satu warung milik warga setempat. Ternyata, di sana sudah ada beberapa orang memarkirkan sepeda motornya, masuk ke dalam warung dengan maksud yang sama. Berlindung dari hujan.
Namun, derasnya huj
an ternyata tidak berpengaruh bagi masyarakat Kota Banda Aceh untuk menghabiskan liburan akhir pekan mereka di pantai. Seperti tidak takut basah, mereka tetap melajukan kendaraan melawan butir-butir air yang jatuh ke bumi, menuju salah satu tempat wisata di kawasan Aceh Besar.
Sudah kepalang basah, The Globe Journal juga melakukan hal yang sama. Melarikan sepeda motor menuju tempat tujuan, Pasir Putih, sebuah Caffe, Restoran Seafood, yang menawarkan wisata pantai dan kuliner bagi para wisatawan. “Tempat ini baru dibangun, sekitar dua tahun yang lalu,” ujar salah seorang pelayan, Irfanullah pada The Globe Journal.
Perjalanan dari pusat kota menuju Lhoknga memakan waktu kurang lebih satu jam. Tapi begitu sampai di sini, anda akan disuguhkan pemandangan alam yang memanjakan mata. Kawasan pantai yang berseberangan dengan deretan gunung yang duduk dengan anggun membuat mata tak berkedip.
Ibarat kanvas yang melukis langit kelabu di bawahnya terhampar pantai dengan air berwarna hijau toska. Laut tersebut dilengkapi dengan butiran pasir-pasir halus berwarna putih dan batu-batu karang yang bertaburan dan berjejer ibarat pembatas antara tepi pantai dengan laut lepas.
Lhoknga merupakan salah satu kawasan pantai yang lumat diterjang tsunami pada tahun 2004 silam. Seiring dengan perjalanan waktu, pantai yang terletak di sekitar pabrik semen PT Lafarge Cement Indonesia (LCI/PT SAI-red) tersebut menjadi salah satu objek wisata yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan, baik dalam negeri maupun luar negeri.
Jalanan mulus beraspal
made in American membuat perjalanan menuju ke lokasi ini semakin mudah. Jadi tidak mengherankan jika banyak orang yang tetap berkunjung ke sini walaupun mendung memayungi kawasan tersebut.
The Globe Journal memilih duduk di salah satu dari sebelas jamboe (pondok) yang menghadap ke arah laut. Jamboe tersebut mampu menampung tujuh orang dan terbuat dari kayu dan beratap rumbia. “Kalau ke sini sore, sunset di sini cantik . Tapi kalau sekarang mendung, nggak begitu kelihatan,” ujar Afni yang juga pelayan cafe Pasir Putih.
Menurutnya, kawasan pantai yang terletak dek
at dengan PT. LCI ini ramai pada hari Minggu, terlebih sore hari. Sedangkan hari-hari lain, hanya ada beberapa orang saja yang datang menikmati keindahan pantai Lhoknga.
“Baru pertama kali ke sini. Kita mau lihat keadaan Aceh,” ujar Sabrem, seorang pelancong asal Medan. Dia mengatakan bahwa pantai di Aceh sangat indah. “Kami tadi baru pulang dari pemandian Lhong, lalu singgah ke sini. Pantai di Aceh cantik-cantik,” sambungnya saat baru turun dari area pemancingan. Sabrem datang berdua bersama temannya yang juga berasal dari kota Medan. Dia mengaku sangat menikmati keindahan alam yang dipersembahkan oleh pantai ini.
Area pemancingan terletak di sisi sebelah kiri pantai, berupa tebing yang mendaki dan disusun oleh bebatuan besar di sekitar laut. Untuk naik ke atas, telah dibuat jembatan dari kayu pohon kelapa yang dibangun mengikuti struktur bebatuan di tebing tersebut. Di ujung jembatan terdapat sebuah pondok yang bisa dipakai untuk bersantai dengan pemandangan laut lepas yang memukau.
Banyak para wisatawan yang naik ke sini tidak lupa untuk mengabadikan keindahan laut lepas dengan kamera saku atau ponsel. Salah satunya adalah Rika (22) dan Tuti (22), mereka tampak sedang asik mengambil foto secara bergantian saat The Globe Journal tiba di kawasan ini. “Nggak sering ke sini, inipun baru pertama kali,” ujar Rika.
Tidak perlu biaya mahal untuk mengabadikan pemandangan laut yang dikombinasikan dengan deretan gunung tersebut. Untuk naik ke sini, hanya perlu membayar Rp 2500,- per orang. Cukup murah bukan? Tentu saja harga tersebut sangat sebanding dengan keindahan alam yang ditawarkan di tempat tersebut. Rasanya pun jika lebih mahal tetap saja bakal banyak wisatawan rela membayar. Imbalannya mata anda terpuaskan oleh kanvas alam yang memukau mata.