T. Muttaqin Mansur [Citizen Journalis, Asal Banda Aceh, tinggal di Malang]
Jum`at, 05 Agustus 2011 00:00 WIB
Bila dipandang sekilas dari luar, mesjid Jami’ kota Apel, Malang ini tidak jauh berbeda dengan mesjid-mesjid lain pada umumnya, baik dari sisi arsitektur maupun dari kubahnya. Tetapi jika kita sudah masuk ke pekarangannya jelas sekali tampak bahwa mesjid ini sangat terpelihara kesucian terutama dari najis yang terbawa melalui aalas kaki para jamaah. Nah, kesucian ini yang istimewa menarik untuk ditelisik lebih jauh dari mesjid yang berdiri megah berhadapan dengan pusat keramaaian, alun-alun kota.
Dalam Islam, kesucian merupakan hal yang sangat pokok, bahkan bila kita belajar kitab-kitab fikih atau membaca buku-buku tentang ilmu fikih, pada bab pertama pelajaran kitab dan buku tersebut diuraikan secara sangat detil mengenai thaharah (bersuci dan kesuciannya). Karena itu, sesuatu pada tempatnya jika mesjid yang kita kenal sebagai rumah Allah, tempat beribadah umat Islam harus dijaga dari kesuciannya. Walaupun di beberapa mesjid yang ada masih kurang tertata dengan bagus.
Mungkin kuncinya adalah pada penataan batas suci yang di atur sedemikian rupa mulai penataan diteras mesjid, jalur masuk ke tempat wudhuk sampai kepada penataan keluar masuk dari toilet (WC), seperti terlihat pada mesjid besar kota Apel itu.
Mesjid dengan satu kubah besar itu diapit oleh 2 menara setinggi kira-kira 20 meter terlihat amat menyolok berada di tengah-tengah kota. Saya Shalat Jumat pada 26 Juli lalu di mesjid tersebut, ini adalah kunjungan saya ke 7 selama hampir 2 bulan saya tinggal di kota Malang. Ada daya pikat tersendiri yang tidak bisa saya uraikan dengan tulisan ini dan itu sebagai magnet penarik jiwa yang terus meminta untuk shalat di mesjid jami’ tersebut, ada ketentraman, ada kenyamanan terasa di dada.
Meski mempunyai pagar yang agak rendah tetapi mesjid tersebut di buat 3 pintu masuk yang menambah ciri keterbukaan dari rumah Allah ini. Pintu besar terletak di tengah-tengah, sedangkan yang agak kecil lainnya berada pada dua sisi yakni kiri dan kanan. Tetapi pada pintu sisi kanan, terdapat sebuah pos satpam sehingga menambah rasa khusyuk ketika kita sedang bersujud di hadapan yang Maha Kuasa.
Pintu kanan dan kiri sebenarnya memiliki fungsi yakni dilalui oleh jamaah yang wanita dan jalur masuk jamaah pria, sementara pintu tengah boleh kedua-duanya. Kemudian langsung menuju ke dalam mesjid. Namun bagi yang belum mengambil air wudhuk atau ada hajat ke toilet maka searah dengan pintu kiri ada jalur terowongan yang agak menurun yang diperuntukkan bagi jamaah pria, sedangkan jalur terowongan kanan diperuntukkan bagi jamaah wanita.
Sebelum jamaah menaiki tangga mesjid, terdapat lantai keramik kasar yang terbuat dari batu-batu halus berwarna hitam tetapi tidak dipayungi oleh loteng mesjid. Lebarnya kira-kira 2 meter dan panjang sepanjang teras mesjid, Nah, di lantai itulah pertama sekali akan terlihat ada “batas suci” dengan huruf yang jelas. Jadi jika tidak hati-hati, kita akan menyangka lantai tersebut masih dapat dinaikkan alas kaki. Bila itu dilakukan, maka siap-siap akan di tegur oleh pengurus mesjid atau security di sana.
Bagi yang belum melaksanakan wudhuk, maka sejajar dengan pintu masuk pria sebelum menuju terowongan akan dapati kolam kecil yang berisi air setinggi 15 cm atau kira-kira melewati batas tumit. Tempat itu terletak dibagian paling depan disisi teras mesjid tadi. Ini berfungsi agar para jamaah sebelum menginjak lantai mesjid dapat mensucikan kakinya terlebih dahulu. Kira-kira baru berjalan 4 meter ke depan, ada lagi kolam kecil lainnya sebagai tempat suci ke dua. Setelah itu baru jamaah dapat mengambil air wudhuk pada kran-kran air yang telah disediakan.
Selanjutnya bagi jamaah yang telah berwudhuk, tidak boleh lagi keluar melalui pintu terowongan, tetapi langsung tangga naik ke atas, ada 2 tangga yang tersedia di sana. Di masing-masing tangga kembali terlihat ada tulisan “batas suci”, artinya jamaah tidak diperkenankan lagi keluar tetapi diminta langsung menuju ke dalam mesjid melalui tangga-tangga tersebut. Jadi setiap jamaah benar-benar terjaga kesuciannya ketika akan melaksanakan shalat.
Bagi yang hendak buang hajat, jamaah dapat terus berjalan hingga menemukan kolam air yang harus dilalui. Sementara tempat toiletnya agak naik keatas, ada beberapa pintu toilet yang tersedia di sana, tetapi kebanyakan adalah kamar kecil. Saat keluar, jamaah akan melalui jalan yang sama, yakni melewati kolam air tadi dan baru kemudian ke kran-kran tempat mengambil wudhuk. Tidak terlihat ada bekas najis yang terbawa oleh jamaah baik ketika masuk dari luar menuju terowongan maupun di saat jamaah keluar dari toilet. Sungguh konsep penataan yang sangat istimewa dan tentu akan membuat betah para jamaah untuk berlama-lama di mesjid dengan kesucian yang tinggi ini. Dan berharap semoga di Aceh juga demikian adanya.[ ]