THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Feature»Mengapa Daging Meugang Mahal?


Mengapa Daging Meugang Mahal?
Muhajir Juli I The Globe Journal
Minggu, 31 Juli 2011 00:00 WIB
Bireuen- Mengapa setiap menjelang meugang harga daging sapi mahal di Aceh, Padahal setiap hari kita temukan banyak sapi yang berkeliaran dijalan seolah tanpa pemilik. Lalu apa hubungannya dengan budaya konsumsi daging menjelang puasa atau lebaran?. Melalui penelusuran langsung kepada "pelaku pasar meugang", The Globe Journal memberikan gambaran.

Suara orang ramai riuh rendah dipasar dadakan Matangglumpangdua. Para penjual daging sibuk menjajakan daging dengan berbagai trik agar menjadi perhatian calon pembeli. "Leumo gampong mameh rasa sie.." teriak seorang pedagang. Tak

lama kemudian seorang pedagang yang lain menyahuti "Leumo gampong itam, hana peungeut, nyopat bukti. Mameh that asoe..." teriak pedagang sambil mengangkat kulit sapi yang berwarna hitam. The Globe Journal melirik angka di layar handpone low end buatan Finlandia. Tepat pukul 10.00 WIB. Tanggal menunjukkan angka 31 Juli. berarti jadwal bertemu dengan salah seorang mantan "toke meugang" sudah tiba pada waktunya.

 Sumber The Globe Journal yang hendak ditemui ini lelaki berumur sekitar 40 tahun. Mantan toke meugang yang sudah beralih profesi ke jalur yang lain. Saat ditemui oleh penulis, dia menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok kretek. Seorang lelaki tua duduk disampingnya. Nama panggilannya Lek.

Dia tidak mau menyebutkan nama asli. Bukan karena takut, tapi malas saja untuk diekspos. Karena waktunya yang singkat, sebab hendak membawa pulang daging meugang. dia langsung berbicara ke posok pembicaraan terkait mahalnya daging meugang dari versi pelaku "bisnis" itu. Menurut Lek, ada beberapa sebab mengapa harga daging meugang di Aceh mahal.

Dia tidak berani berbicara secara keseluruhan. Dia hanya mengungkapkan penyebabnya yang terjadi di Bireuen secara umum. Menurut lelaki beranak empat dan beristri dua tersebut, salah satu diantara penyebab mahalnya daging meugang adalah ulah para "toke tak bermodal". Biasanya beberapa waktu menjelang Ramadhan, mereka mulai bergerilya ke gampong-gampong pelosok mencari sapi gemuk untuk meugang.

Mereka berani membeli dengan harga lebih mahal dari harga pasar. Misalnya untuk sapi yang seharga Rp 10 juta mereka berani beli Rp 12 juta. Tentu saja tidak dibayar lunas. Biasanya mereka hanya membayar "caram" sekitar Rp 3 juta. Kemudian dijanjikan akan dilunasi seluruhnya sehari setelah meugang.

Dilihat dari segi bisnis, jelas sekali mereka tidak akan punya untung. Bahkan sudah pasti rugi. Namun karena dituntut harus punya daging dan baju lebaran serta kebutuhan lain untuk keluarga, maka cara-cara menipu seperti itu akan mereka lakukan. Sangat jarang sekali "toke tak bermodal" itu akan melunasi hutangnya kepada peternak.

Biasanya sampai bertahun-tahun harga sapi itu tidak dibayar. Untuk menutupi hutangnya sanggup dibayar kira-kira setengah harga sapi, maka langkah yang paling tepat adalah menjual daging dengan harga mahal. Bahkan bila kondisi yang menyembelih sapi sedikit sedangkan permintaan banyak, maka harga akan dilipatgandakan. "Biasanya toke tak punya modal itu membeli sapi dengan harga mahal. Namun dia tidak membayar secara lunas. Untuk mencari keuntungan yang banyak agar setengah harga sapi terlunasi, maka harga daging dilipatgandakan," Kata Lek.

Kalau dikaji, keuntungan yang didapatkan dari model seperti itu tidaklah banyak. Paling dia hanya mampu membawa pulang dua kilogram gading ke rumah serta sedikit uang belanja. Selebihnya dia tidak punya apa-apa. Perilaku seperti itu dilakukan secara terus menerus. Bahkan sampai belasan orang mampu ditipu dengan cara seperti itu.

Bila dia berhutang sama si B, Maka kemudian yang dibayar adalah uang si A yang telah lebih dulu diambil hutang oleh pelaku. Lek pernah terjebak dalam perilaku seperti itu, Namun karena dalam sebuah pengajian yang diikutinya membahas tentang hasil haram yang didapatkan dari perilaku seperti itu, makanya dia langsung berhenti dan mencoba membayar semua hutang-hutangnya dengan bekerja ditempat lain.

Walau semua orang mengetahui bahwa berdagang seperti itu sangat berisiko, namun tetap saja setiap meugang ada peternak yang ditipu dan pedagang yang melarikan diri. "mungkin karena pengaruh harga yang ditawarkan memang mahal jauh diatas harga pasar, maka setiap tahun ada pertenak yang ditipu. Demikian pula ada toke yang lari. Juga harga daging akan gila-gilaan karena mengejar keuntungan yang memang tak terkejar," Kata Lek sambil membakar sebatang lagi rokok kreteknya.

Satu lagi, Penyebab harga daging meugang melonjak tinggi adalah karena sudah menjadi tradisi di Aceh bahwa seorang lelaki yang hebat adalah dia yang berhasil membawa daging meugang ke rumah. walaupun itu hanya sekilo saja. Namun dia sudah dianggap laki-laki.

Menurut cerita orang-orang dahulu, ada lelaki Aceh yang memotong penis karena tidak mampu membeli daging untuk hari meugang. dia malu sekali dengan orang rumah dan lingkungannya.

Ini dikatakan oleh Nek Suh (70) kawan Lek yang juga "mantan" toke daging meugang. Dia berhenti karena kehabisan modal. Sebab harga sapi semakin hari semakin melonjak. Disaat yang sama daya beli masyarakat semakin melemah.

Menurut Nek Suh, pengkultusan hari meugang sebagai pembuktian kelelakian seseorang telah dimanfaatkan oleh orang-orang "berduit dan culas" untuk melakukan "bisnis kotor" harga sapi dan daging yang menjulang. Padahal kalau satu kali meugang saja masyarakat mau berhenti membeli daging, bisa dijamin tahun depan harga daging meugang tidak akan mahal. namun "boikot" seperti itu takkan mungkin dilakukan,sebab mengkonsumsi daging sapi tiga kali setahun sudah menjadi tradisi yang mendarah daging. "Para pedagang melihat kondisi. Karena memang daging meugang dianggap sebagai sebuah kehormatan, maka isu bahwa lelaki yang hebat adalah yang mampu membeli daging sapi akan terus dikelola.

Inilah yang kemudian menjadikan pengkultusan hari meugang dan mahalnya harga daging," kata Nek Suh yang sewaktu muda pernah menjadi tentara Heiho Jepang. Nek Suh prihatin dengan kondisi, tradisi hari meugang telah banyak memakan korban. Banyak sekali yang meratap dihari yang seharusnya mampu membuat setiap muslim tersenyum. Namun apa mau dikata, tradisi tak bisa dilawan, kebiasaan tak bisa dihilangkan.

Dia hanya berharap pemerintah daerah mampu mengintervensi pasar dengan menetapkan harga sapi dan daging yang mempunyai HET (Harga Eceran Tertinggi). Bila para pedagang tetap membandel, maka pemerintah perlu menyiapkan pasar tandingan disetiap Kabupaten/kota yang ada di Aceh. "Pemerintah harus mampu mengintervensi pasar. Meugang sudah dimanfaatkan untuk menipu dan memeras. Yang jadi korban bukan yang berduit, tapi orang-orang miskin dan anak yatim yang akan menderita," Kata Nek Suh dengan nada prihatin. Lek melirik jam tangannya. Dia mohon diri. Sebab sudah pukul 11.30 WIB. Demian pula Nek Suh. Setelah membayar tiga cangkir kopi, dia pamit. Tak lama kemduian dia sudah menghilang dari keramaian pasar dadakan. Para pedagang sapi masih terus berpromosi. harga daging sudah mencapai Rp. 120.000. Nampak wajah-wajah kusut merengut namun terpaksa membeli karena memang tidak ada alternatif lain selain membawa pulang daging segar kerumah.






    Redaksi:
    Informasi pemasangan iklan
    Hubungi:
    No Telp. 0651-741 4556
    Ponsel. 0852 619 222 25


    Komentar Anda

    Terpopuler

    Seni dan Budaya

    Jalan-Jalan

    Berita Foto

    «
    »
    Close