THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Feature»Memburu Malam Seribu Bulan


Memburu Malam Seribu Bulan
Firman Hidayat | The Globe Journal
Minggu, 21 Agustus 2011 00:00 WIB
Margasatwa tak berbunyi, gunung menahan nafasnya, anginpun berhenti, pohon-pohon tunduk dalam gelap malam, pada bulan suci. Qur’an turun ke bumi. Inilah malam seribu bulan, ketika cahaya syurga menerangi bumi, ketika Tuhan menyeka air mata kita dan ketika Tuhan menyeka dosa-dosa kita (lirik "Malam Lailatul Qadar" — Gigi).

Lailatul Qadar memang malam yang misterius. Tak diketahui kapan turunnya. Malam Lailatul Qadar ini terus diburu umat Islam, karena malam qadar lebih baik daripada malam seribu bulan. Tradisi memburu Lailatul qadar di negeri Syariat Islam seperti di Aceh lebih banyak dilakukan di masjid-masjid dengan berdiam diri di masjid atau melakukan I’tikaf.

Belum lagi ditambah dengan membaca Al Qur’an, salawat nabi dan wirid yasin. Hampir rata-rata masjid yang ada di Aceh diramaikan jamaah untuk memburu malam Lailatul Qadar ini. Terutama pada Ramadhan 15 ke atas atau pada malam tanggal-tanggal ganjil.

Ada juga yang melakukan Shalat sunnat dua rakaat selepas tengah malam dengan membaca surat-surat panjang hingga menjelang sahur bersama. Alqadar bermakna martabat yang tinggi dan mulia atau disebut dengan malam penuh berkah, malam turunnya kasih sayang Allah SWT dan malam yang penuh kedamaian.

Dalam riwayat Ibnu Majah, Nabi bersabda; Bulan yang mulia ini telah hadir dihadapan kalian semua, didalam bulan ini terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang menghalanginya untuk mendapatkannya, maka ia tertutup seluruh kebaikannya. Dan tidaklah menutupi kebaikannya, kecuali orang yang benar-benar ditutup hatinya.”

Banyak pendapat tentang malam mulia itu. Ibnu Hajar mencatat ada 46 pendapat tentang kapan sebenarnya Lailatul Qadar itu diturunkan Allah ke bumi. Imam Syafi’i misalnya lebih memilih malam 21 Ramadhan. Sungguh ini hikmah yang sempurna bagi Allah dengan menyembunyikan waktu yang diturunkannya malam itu.

Dalam Fathul Barri disebutkan tanda turunnya Lailatul Qadar yang biasanya baru dirasakan setelah terlewatkan. Pada keesokan harinya sinar matahari terasa tidak panas, juga sinarnya agak kemerahan. Kemudian ada tanda-tanda lain yaitu pada malam itu tiba-tiba turun hujan dan angin, atau malam itu menjadi cerah tidak panas dan tidak pula dingin.

Menurut Imam Syafi’i, tanda-tandanya tidak mutlak dan sangat tergantung pada ciri khas daerahnya.

Pada malam itu dibuka tabir yang selama ini ditutup untuk kita. Pada malam itu kita bisa menyaksikan dengan mata telanjang rahasia langit yang dipenuhi malaikat sedang beribadah. Begitu juga kita bisa saksikan keadaan bumi sendiri, sehingga bisa terlihat kegiatan jin dan syetan. Ia juga bisa melihat kejahatan dan kebaikan di hati manusia. Dan bisa terungkap lebih banyak lagi tergantung ketaatan dan ibadah seseorang, sebut Syekh Ali Ahmad Aljurjawi.

“Dan bagi yang mendapatkan malam itu sebaiknya merahasiakannya dan justru memperbanyak ibadah kepada Allah,” tulis Aljurjawi.

Agar kita selalu mendapat malam lailatul qadar itu maka lakukanlah Shalat Insya dan Subuh secara berjamaah. Sahabat Nabi, Turmuzi juga meriwayatkan “Barang siapa Shalat Isya berjamaah maka pahalanya sama dengan shalat setengah malam. Dan barang siapa yang melakukan Shalat Subuh secara berjamaah, maka pahalanya sama dengan menunaikan shalat sepanjang malam.”  Maha Besar Allah dari segala FirmanNya.







    Redaksi:
    Informasi pemasangan iklan
    Hubungi:
    No Telp. 0651-741 4556
    Ponsel. 0852 619 222 25


    Komentar Anda

    Terpopuler

    Seni dan Budaya

    Jalan-Jalan

    Berita Foto

    «
    »
    Close