THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Feature»Mau Untung Malah Buntung


Mau Untung Malah Buntung
Muhajir Juli | The Globe Journal
Sabtu, 17 Desember 2011 00:00 WIB
Program konversi minyak tanah (minah) ke gas yang dicanangkan oleh pemerintah sampai sekarang masih menimbulkan masalah. Akibat terlalu lama bersentuhan dengan minah, ketergantungan tetap saja masih ada. Ranum rupiah pun mulai tercium. Misalnya, minyak tanah subsidi jatah masyarakat Bener Meriah kerap di "curi" dan di jual ke Aceh pesisir seperti Bireuen, Pidie Jaya dan tempat-tempat lain. Namun kerap kali mimpi meraup rupiah kerap tak menjadi nyata akibat oknum penegak hukum ikut bermain petak umpet.

Hujan masih mengguyur sebagian  Kabupaten Bireuen. jarum jam masih menunjukkan pukul 05.00 Wib. Setelah shalat subuh, sabtu (17/12) Is (nama samaran) mengengkol sepeda motor Honda Pro. Di jok belakang telah diikat keranjang yang berisi 6 jerigen minyak tanah. Bila di takar isinya kira-kira sebanyak 210 liter atau satu drum. Lelaki berusia 35 tahun itu hendak menuju ke Beureuenun Pidie jaya untuk menjual minyak itu.

Setelah merasa segala persiapannya telah matang, Is langsung tancap gas sambil diiringi oleh lambaian sang istri yang berharap agar ayah beranak tiga itu akan membawa pulang sedikit keuntungan demi dapur yang terus mengepulkan asap. Untung tak dapat diraih malang tak dapat di tolak. Ternyata sesampainya Is di depan Polsek Juli seorang polisi telah menunggunya.

Melihat sang polisi, Is menambah kecepatan sepeda motornya. Sang polisi pun mengejar. Karena kalah cepat dalam hitungan menit kemudian Is sudah "diberhentikan". Setelah melakukan perdamaian ala jalanan, dua jerigen minyak diambil untuk oknum polisi itu. Is dibebaskan. Namun keuntungan untuk beberapa hari kerja telah terbang. Si polisi tersenyum puas, Is kembali mengendarai sepeda motornya tanpa selera. Pupus sudah mimpinya untuk membawa pulang sedikit makanan enak untuk anak dan istrinya. Di pagi yang dipenuhi rinai hujan itu, dia kehilangan Rp 700.000.

"Semua keuntunganku untuk beberapa hari telah terbang ke kantong oknum polisi jahanam itu bang," kata Is pelan sambil menghisap rokok putihnya. Sepertinya dia ingin menangis. The Globe Journal yang kebetulan bertetangga hanya bisa merasa iba.

Is adalah salah seorang dari sekian masyarakat kelas bawah di Bireuen yang menggantungkan hidupnya pada jual beli minyak tanah subsidi yang sekarang masih tersisa di Bener Meriah. Menurutnya, bisnis tersebut dilakukan oleh dia dan kawan-kawan tidaklah terlalu banyak menghasilkan keuntungan. Dalam satu liter minyak mereka hanya mendapatkan keuntungan Rp 1000.

Is dan beberapa agen minyak subsidi yang menggunakan sepeda motor adalah pemain kecil dalam kejahatan jual beli minyak tanah subsidi jatah Bener Meriah. Banyak diantara pelaku yang malah menggunakan mobil sebagai alat kerja.

Tentu saja pekerjaan yang dilakukan Is tidaklah patut untuk di tolerir. Namun "kejahatan" yang mereka lakukan turut melibatkan oknum aparat penegak hukum dari jajaran kepolisian. Hal ini dibuktikan dengan terus lolosnya para "pencuri" minyak subsidi itu dari kejaran hukum.

Menurut pengakuan M wrga Peudada Bireuen saat dihubungi oleh The Globe Journal via telepon selular, Jumat (16/12)  bahwa selama ini mereka lolos dengan memberikan sedikit servis kepada oknum polisi yang berjaga di pos km 35 perbatasan Bener Meriah dan Kabupaten Bireuen.

"Kami memberikan sedikit upeti untuk oknum polisi agar mereka tidak menangkap kami. Mereka pura-pura tidak tahu saja. Mungkin mereka paham bila kami hanya pedagang kecil yang menggantungkan hidup dari minyak tanah," sebut M dengan suara agak berat.

Dari pengakuan M kepada The Globe Journal, selama ini selain bekerja sama dengan oknum polisi mereka juga bekerjasama dengan pedagang eceran di kampung-kampung di Bener Meriah. Penjual eceran lebih tertarik menjual kepada M dan teman-teman karena harganya yang lumayan menguntungkan daripada menjual kepada masyarakat biasa.

Bukti teranyar bila jual beli ilegal minyak tanah subsidi jatah Bener Meriah adalah kasus penembakan terhadap Suryadi (35) pengemudi pick up yang melarikan diri dengan menerobos razia yang dilakukan oleh Polres Bener Meriah di perbatasan bener Meriah dan Bireuen, Minggu (11/12).

Ranum rupiah di tetes minyak tanah subsidi telah menarik siapa saja untuk merampas jatah rakyat jelata. Padahal di pihak yang lain konversi ke gas juga menuai masalah serius. Selain banyak sekali tabung gas yang meledak dan kerap mencabut nyawa. Juga kesulitan mendapatkan gas akibat pasokannya yang tidak lancar.

Pencurian jatah rakyat menjadi sebuah kejahatan yang tidak berujung. Ekonomi yang melarat dijadikan alasan pedagang-pedagang kecil seperti Is dan M sebagai dalih untuk membenarkan pekerjaan mereka.

Kemudian bagi pemain besar yang ikut dibekingi oknum aparat, gemerincing rupiah menjadi daya tarik tersendiri untuk "merampas" jatah rakyat kecil. mereka mengadaikan hukum untuk mendapatkan keuntungan.

Subsidi untuk Bener Meriah akan berakhir pada bulan maret 2012. Is dan M bertekad untuk tetap bekerja. Sebab jalan inilah satu-satunya lubang bagi mereka untuk tetap mengepulkan asap dapur dan sekolah anak. Walau terkadang oknum aparat polisi kerap sengaja menangkapnya dengan main petak umpet dan kemudian "memeras" untuk minta jatah, namun inilah jalan yang harus dilalui. Akhirnya pintar-pintar mencari peluang sebelum masa subsidi berakhir.







Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close