SerambiFeatureMak Hus, Bertahan Hidup Dengan Bawang Goreng
Mak Hus, Bertahan Hidup Dengan Bawang Goreng
Muhajir Juli |The Globe Journal
Selasa, 30 Agustus 2011 00:00 WIB
Usianya sudah memasuki kepala empat. Rambutnya sudah mulai memutih. Namun di usianya yang sudah tidak muda lagi itu, dia masih sangat cekatan mengolah siung bawang merah menjadi makanan yang renyah dan berbau harum.
Namanya Husainah. Orang-orang memanggilnya Mak Hus. Perempuan yang dilahirkan pada tahun 1965 itu sudah menjanda sejak dia melahirkan anak pertamanya, sekaligus anak terakhir. Sebab sejak bercerai dengan suaminya, dia trauma dan tidak lagi berani menjalin ikatan pernikahan dengan lelaki manapun.
Menurutnya, dia merasakan indahnya menjadi istri hanya seumur jagung. Dia menikah tahun 1984. Kemudian bercerai tahun 1986. Saat bercerai itu, buah hati mereka masih berusia delapan bulan. Husainah tidak pernah bersumpah, namun sejak perceraian itu, dia tutup buku tentang pasangan hidup. baginya saat itu, lelaki semua sama, tukang bohong dan tak setia.
Dengan modal nekat, Husainah muda kembali ke Meunasah Dayah Bireuen. Sebelumnya dia sudah setahun menetap di Jeunib mengikuti sang suami. Dia tidak bisa hidup di pedesaan. Sebab sejak kecil sampai gadis, dia habiskan hari-harinya di Kota Bireuen. Otomatis, dengan status sebagai seorang janda beranak satu, dia harus kembali kehabitatnya agar bisa terus melanjutkan hidup.
Di Bireuen, Husainah muda bekerja serabutan. Mulai sebagai buruh sortir biji kopi di toko Budi milik pengusaha Tionghoa, kemudian beralih ke buruh cuci rumah tangga sekaligus juga buruh tani harian lepas di persawahan penduduk. Rupiah demi rupiah terus dikumpulkan demi putra tercinta yang kini hampir menamatkan pendidikan tinggi di sebuah universitas swasta di Kabupaten Bireuen. Anak semata wayangnya itu kuliah di Jurusan Budidaya Perikanan Fakultas Pertanian.
Saat itu, Mak Hus sudah mulai menggoreng bawang. Namun belum begitu laku. Skalanya pun masih kisaran kiloan saja. Itupun lebih banyak rugi daripada untungnya. Namun falsafah hidup "siapa yang bersungguh-sunggu suatu hari akan berjaya" dipegang teguh oleh Mak Hus. Untuk terus menghidupkan bawang gorengnya itu, dia terus bekerja serabutan lain. Bahkan sebagai pemetik daun kangkung pun dilakoninya.
"Saat itu suasana sangat susah sekali. Apalagi di usia muda sudah berpisah dengan suami. Otomatis saya harus memutar otak untuk terus bertahan hidup. Apalagi saya sudah dikarunia seorang putra yang saat itu masih kecil sekali," Kata Mak Hus sambil terus mengaduk bumbu bawang gorengnya.
Nasib Mak Hus mulai berubah sejak dia mengadopsi anak angkat. Walau dia termasuk keluarga kurang sejahtera, namun rasa sosial yang tinggi telah meluluhkan hati Mak Hus untuk memungut anak adiknya yang kondisi ekonominya yang setali tiga uang. Nama anak itu Putri Wahyuni. Sekarang Putri sudah duduk di kelas 3 sebuah SMA di Bireuen.
Kepada The Globe Journal, Senin (29/8) sekitar pukul 23.00 WIB, Mak Hus bercerita bahwa tujuh tahun yang lalu itulah, kehidupannya mulai berubah. Bawang gorengnya mulai diminati oleh konsumen. Perlahan namun pasti, sambil terus bekerja mocok-mocok, usaha bawang gorengya kian maju.
"Sejak mengangkat anak adik saya itu, kehidupan saya mulai berubah. Allah telah membuka jalan kepada saya. Perlahan namun pasti, bawang goreng yang saya buat mulai diminati oleh pembeli," Kata Mak Hus mengenang masa lalunya. Sejak setahun yang lalu, Dinas Sosial kabupaten Bireuen juga membangun sebuah rumah bantuan tipe 36. Sebelumnya dia dan putra serta anak angkatnya tinggal di gubuk reot.
Kini, Usaha bawang goreng Mak Hus sudah mampu menghabiskan bawang 200 kilogram per tiga hari. bawang tersebut berasal dari Medan. Modal yang dikeluarkan Mak Hus untuk satu kilogram bawang sebesar Rp. 14.000. Untuk 10 kilo bawang merah segar, setelah di goreng menjadi 3 kilogram saja.
Harga bawang goreng dilepas Mak Hus ke pasar Rp 70.000 per kilogram untuk eceran dan Rp 60.000 per kilogram untuk grosir. Menurut Mak Hus, Dalam sepuluh kilogram bawang yang digoreng, dia menghabiskan dua liter minyak tanah dan 2 kilogram minyak goreng.
Sekarang dengan mudah kita bisa mendapatkan bawang goreng dengan merek Mak Hus di pasar Kota Bireuen dan Matang Glumpang Dua. Selain itu, Dia mengaku belum mampu memasarkan produknya ke kota lain dikarenakan keterbatasan tenaga dan modal. Hanya putra semata wayangnya yang menjadi distributor bawang goreng untuk Bireuen dan Matang.
Saat The Globe Journal meninggalkan kediamannya, mak Hus masih terus menggoreng bawangnya. Bau harum sampai ke halaman rumah berkonstruksi sederhana itu. Saat mengantar penulis ke halaman, dia meminta maaf tak bisa melayani pertanyaan dengan maksimal, sebab banyaknya pesanan yang harus dia siapkan. Baginya, lebaran menjadi rahmat tersendiri, sebab pesanan bawang goreng juga datang dari keluarga-keluarga yang non penjual.
Redaksi: Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25