THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Feature»Kokoye yang Kehilangan Masa Kecil Karena 9/11


Kokoye yang Kehilangan Masa Kecil Karena 9/11
Minggu, 11 September 2011 00:00 WIB
Tennessee — Insiden 9/11 memang sudah dimakan usia. Peristiwa bersejarah bagi negeri adidaya itu sudah dilewati selama 10 tahun. Kendati demikian, momentum itu tak bisa lekang dari ingatan semua warga. Bagi Drost Kokoye remaja putri berusia 20 tahun ini, 10 tahun lalu sangat menyeramkan dengan berbagai tudingan, diskriminasi, dan ketakutan ancaman fisik.

11 September 2001, Kokoye kecil tinggal di pinggiran Kota Nashville, Tennessee. Layaknya gadis belia lainnya seusia 10 tahun, dia tak memahami apa yang akan dialami akibat tragedy dahsyat itu. Terfikirpun tidak. Yang terlintas hanyalah keinginan pergi ke Pusat Pertunjukkan Tennesse.

“Ferris Wheel, mobil-mobilan, permen kapan…oh betapa saya sangat menyukai tempat itu,” kenang Kokoye pada wartawan Aljazeera, Gabriel Elizondo, Sabtu (10/11) saat mengunjungi Middle Tennessee State University.

Sayangnya pada tahun itu, keinginan tersebut tak terpenuhi. Permintaan tersebut tak direspon oleh ayahnya. “Tidak. Kita tidak bisa pergi tahun ini,” katanya mengulang larangan sang ayah.

Dia tak berfikir panjang. Kiranya larangan itu hanya bersifat temporari. Baru kemudian dia tahu ayahnya khawatir akan ada penyerangan terhadap Muslim yang ada di Amerika.

Kokoye dan keluarganya merupakan warga Kurdi, Irak yang melakukan imigrasi ke Amerika. Pada tahun 1997, ayah dan ibunya sepakat menetap di Tennessee karena ancaman rezim Saddam Husein yang ingin membunuh warga Kurid penentangnya dengan gas beracun.

Di pinggiran kota Nashville yang tenang, ayahnya diterima menjadi warga Amerika yang berprofesi sebagai asisten professor di sebuah universita lokal disana. Sayangnya, Kokoye hampir tak pernah mengetahui bagaimana kisah remajanya bisa dinikmati layaknya remaja lainnya. Menemukan jati diri untuk menentukan kepribadiannya. Namun yang dirasakan hanyalah tuntutan untuk mendefinisikan diri sebagai muslim.

“Saya berada di kelas enam waktu itu. Saya bahkan tak tahu apa itu teroris,” saat teman-teman menudingnya teroris.

Tidak saja itu, “Beberapa anak meludah padaku, melempar batu, dan aku berjuang tanpa alasan yang jelas,” kenangnya.

Kendati dalam usia belasan tahun kala itu, Kokoye beradaptasi cepat dengan tuntutan tersebut. Dia berupaya mencari penjelasan-penjelasan realistis kendati tak ada yang hanya tudingan demi tudingan yang diperolehnya. Peritiswa itu tidak saja memberikan Kokoye kesempatan untuk menjelaskan kesalahpahaman ini dalam Islam, melainkan jug kesempatan untuk memahami berbagai hal dari perilaku banyak orang.

Menariknya jika banyak remaja non-muslim tak tahu mengapa mereka harus menjalani hidup sebagai non-muslim, Kokoye justru sadar betapa dia harus mengenal Islam dengan baik. perlu mempelajari Islam sehingga mampu memberikan alasan-asalan logis, setidaknya ketika ditanya.

” Mengapa saya selalu menggunakan kerudung. Dengan alasan yang realistis, saya terdidik sebagai remaja yang tidak pemarah bila mendapatkan pertanya-pertanyan sensitive lainnya,” ujarnya.

Sungguh, peristiwa itu telah membuka cara pandang Kokoye terhadap bagaimana menjadi warga minoritas. Apalagi sejumlah warga Mayoritas juga memperlihatkan rasa apresiasi yang besar. Tidak semuanya menuding Islam sebagai agama teroris. Dengan berkecamuknya konflik horizontal pasca 9/11, mereka sama-sama belajar memahami. Sebagian juga meminta maaf atas apa yang dialami kaum muslim di Amerika.

“Saya katakan pada mereka, saya menghargai permintaan maaf Anda, dan saya juga minta maaf atas apa yang terjadi pada 9/11,” jelasnya.

“Perlahan-lahan bentuk apresiasi itu juga mengembalikan rasa persahabatan,” katanya.

Kini, bayangan kelam kekerasan untuk warga muslim usai 9/11 tak mengikuti lagi. Kokoye sibuk dengan sekolah yang berat dan jadwal kerja yang padat. Hal itu menunjukkan tak banyak yang berubah dengan Amerika kendati suhu politiknya selalu dinamis. Terkadang terselip keinginan untuk kembali menikmati Ferris Wheel, permen kapas, maupun hal lainnya yang belum habis dinikmati saat belia dulu. [YUL-Aljazeera]






Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close