THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Feature»Ketika Warga Mandi Dengan Air Payau


Ketika Warga Mandi Dengan Air Payau
Chairul Sya'ban | The Globe Journal
Rabu, 01 Februari 2012 00:00 WIB
Sore hari, saban waktu dijumpai anak-anak belasan tahun dengan riangnya bersendawa dalam air keruh berwarna cokelat, dengan aroma sampah yang menjadi teman sehari-hari warga penghuni bawah jembatan krueng Tanah Jambo Aye, persis di perbatasan antara Kabupaten Aceh Timur dan Aceh Utara. Sebagian mereka ada yang berteriak senang, ada yang mengayunkan tangan membelah air agar dapat  sampai ketepian lainnya. Sebagian lagi sedang menyebur ke dalam air dan timbul lagi. Itu mereka lakukan untuk melepas kesenangan, tanpa mengetahui dampak air limbah yang mengancam kesehatan.

Lebih kurang 150 Kepala Keluarga tinggal di sekitar Krueng Jambo Aye. Untuk kebutuhan sehari-hari, air sungai payau itu dimanfaatkan untuk mencuci pakaian dan mandi, dipakai untuk air minum setelah disaring dengan alat yang sederhana.

Dengarlah cerita M. Yunus (56), yang sejak tahun 1965 telah tinggal di tepian sungai keruh itu. Ia bermukim di Aceh setelah menjadi muallaf, dari katolik masuk Islam pada tahun 1964. Pada tahun 1965, ia menikahi salah satu gadis warga setempat, dan bersama keluarga baru yang dibinanya, hingga kini masih tetap tinggal dipinggiran sungai.

“Belum ada perhatian Pemerintah, Kami tidak ada keinginan hidup begini, namun  apa yang bisa kami perbuat, mata pencaharian kami terletak antara bawah jembatan ini dan pasar pajak inpres Pantonlabu,” ucap M. Yunus salah satu dari 450 jiwa manusia yang bangun-tidurnya dihabiskan di bawah jembatan.

Hal yang sama juga dikemukakan Amir Hamzah Kepala Dusun I gampong Kota Panton. Ia mengatakan, sudah menghuni tempat tersebut selama 38 tahun. Pemukiman kumuh yang ia tinggali mengalami terus mengalami penambahan penduduk, makin sesak saja.

“Di sini hanya ada penambahan penduduk saja. Lainnya masih seperti 38 tahun yang lalu. Perhatian Pemerintah sih ada, tapi sangat minim sekali, karena hidup kami tak hanya membutuhan perhatian selayaknya bantuan raskin semata, sarana penunjang kehidupan juga sangat kami impikan,” katanya dengan tubuh bersandarkan di kursi panjang sudut rumahnya.

Ia membenarkan kalau warganya memanfaatkan air payau sebagai penunjang hidup, sebab sulitnya memperoleh air bersih.  Air untuk minum dibeli dengan harga seribu rupiah per jerigen. “Air di sungai rasanya tawar, tapi jika kami menggali sumur, maka rasa air menjadi asin, seperti sumur bor yang pernah dibangun dulu,”ceritanya.

Amir  sudah empat tahun ini menjabat sebagai kepala dusun I Masjid Lama Kota Panton. Penghuni baru di dusunnya kebanyakan pendatang. Mudahnya menempati serta lokasi yang strategis di pusat keramaian kota Pantonlabu Aceh Utara, merupakan salah satu faktor membludaknya penghuni.

“Walaupun dibawah jembatan, masyarakatnya lebih memilih tinggal di tempat itu, karena mudah menjalankan mata pencahariannya untuk hidup sehari-sehari. Pendatang baru berasal dari Seunuddon bahkan dari Kecamatan di Kabupaten Aceh Timur,”ia menjelaskan.

Kotornya krueng Jambo Aye, diakui oleh Amir, karena kecerobohan masyarakat dalam membuang sampah ke sungai. “Sampah yang berada di pasar-pasar sayur dan ikan Pantonlabu juga kurang terkoordinir dengan baik. Kebanyakan sampah sudah menjadi limbah dengan enaknya dibuang kedalam Krueng,"ujarnya.

Sebuah ironi tampaknya bagi daerah Aceh Utara. Baru saja Kepala Kantor Lingkungan Hidup Aceh Utara, Nuraina SKM MSi bulan ini berhasil meraih satu penghargaan Awards Night 2011, Executive & Profesional in Development Award 2011, sebagai Best Figure in Government award 2011, Citra tokoh wanita Indonesia yang bertempat di Arya duta Hotel Jakarta, di Jakarta 7 Oktober lalu, tapi ternyata masih belum mampu mengelola lingkungan di daerahnya.

Walaupun Ia mengatakan, gabungan dari empat dinas di Aceh Utara sedang membentuk program dalam rangka mengantisipasi permasalahan yang dihadapi Krueng Jambo Aye. “Permasalahan terbesar di Aceh Utara berhubungan dengan sungai adalah Krueng Jambo Aye,”ucap Nuraina.

“Saya belum berani menjawab, karena belum ada kebijakan yang jelas guna antisipasi lingkungan Krueng Jambo aye. Kantor Lingkungan hidup sebagai sarana pemantau lingkungan, sudah membentuk program antisipasi sebagaimana yang telah disepakati antara Pemerintah Pusat dan Gubernur Aceh terkait Pengelolaan Sumber Daya Air Aceh termasuk Krueng Jambo Aye,”tambahnya lagi.         

Bukan mudah memang mengelola sungai, apalagi sungai yang disekitarnya dihuni oleh begitu banyak masyarakat kelas bawah. Jangankan berpikir untuk kesehatan, sanitasi rumah dan sebagainya, untuk hidup sehari-hari saja sudah susah. Menjadi tugas pemerintah untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat. Seperti yang tercantum dalam UUD 45, Pasal 28 H (1), Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.







Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close