THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Feature»Ketika Alia Kangen Ibu


Ketika Alia Kangen Ibu
Hayatullah Zuboidi | The Globe Journal
Senin, 26 Desember 2011 00:00 WIB
Banda Aceh-Siti Alia Humaira sekarang sudah berusia delapan tahun. Bocah yang akrab disapa Alia itu  menjadi yatim piatu semenjak terjadi peristiwa Tsunami yang memporak-porandakan Aceh 26 Desember 2004 silam.

Kedua orang tuanya dan kedua kakaknya hilang karena tsunami, mata dunia terpana saat itu. Alia saat ini tinggal bersama nenek dan kakeknya di Medan.

Alia saat itu masih beurumur satu tahun, sekarang  ia sudah duduk dibangku sekolah dasar kelas III.

Saat kejadian itu Alia bersama neneknya di Medan, sementara orang tuanya di rumahnya Perumnas Cadek Indah, Banda Aceh. Ibunya Ika Fitriani Siregar, bekerja sebagai dosen di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) sambil mengambil pendidikan S2, bapaknya, Mirza Amir Husen kontraktor di Banda Aceh.

Beberapa menit sebelum kejadian Tsunami, kata neneknya Alia, Cut Rosmawar, ibunya Alia sempat menelponnya bahwa di Banda Aceh sedang gempat berat, kemudian tiba-tiba telponnya terputus. Padahal sudah direncanakan tanggal 30 Desember Alia berulang tahun dan mau di bawa pulang ke Banda Aceh.

Rosmawar selalu datang ke Banda Aceh setiap memperingati Tsunami. Tak pernah sekali pun ia tidak hadir. Kalau sekali saja ia tidak datang, rasanya hatinya terpanggil oleh anaknya, Ika Fitriana Siregar.

“Kalau saya tidak datang seolah-olah saya dipanggil oleh anak saya, ‘kenapa mama tidak datang melihat kami’,”kenang Rosmawar sambil berlinang air mata di wajahnya karena sedih mengingat anaknya beserta dua cucunya telah tiada.

Awal-awal Rosmawar mengakui pernah ditanya oleh Alia siapa ibu dan dimana kedua orang tuanya. Sedikitpun neneknya tidak pernah menyembunyikan akan hal itu kepada Alia. Apalagi Alia sekarang sudah besar, dan dia sudah paham.

“Sekarang di rumah sudah saya cuci foto kedua orang tuannya dan kedua kakaknya, dan Alia bisa melihat ibu-bapaknya saat kangen,” tukas Rosmawar pelan kepada The Globe Journal, Senin (26/12) pada Renungan Tujuh Tahun Tsunami Aceh di Lampuuk.

Alia termasuk anak yang pintar, di sekolah ia sering mendapat prestasi. Ia juara pertama cerdas cermat disekolahnya. Meskipun masih kelas tiga SD, tapi Alia sudah bisa menghitung dan bisa berbicara dalam bahasa Inggris.

“Nanti kalau Alia Sudah gedek, Alia mau jadi dosen kayak mama,” tukas gadis mungil berkulit putih itu.

Hari-hari Alia tinggal bersama nenek dan kakeknya, Alia mendapat kasih sayang yang lebih dari neneknya, meskipun kasih sayang seorang ibu jauh lebih bermakna, tetapi tuhan berkata demikian.

Kedatangan Alia sempat terharu beberapa orang yang hadir dan menyaksikan ketika Alia menulis pesan dan isi hatinya di selembar kertas kuning yang disediakan oleh guru dan beberapa relawan dari Jepang di Lampuuk. Alia menuliskan “I LOVE YOU MOM, I LOVE YOU PAP,”. Pesan itu sebagai mengambarkan rasa rindu Alia kepada kedua orang tua yang telah meninggalnya tujuh tahun silam. Pesan itu nanti akan dibawa ke Jepang untuk diperlihatkan kepada masyarakat disana yang mengalami hal yang sama.

Tujuh tahun sudah peristiwa itu berlalu. Banyak NGO dan donator dari berbagai penjuru datang menumpuk-numpuk bantuan ke Aceh, namun bantuan itu tidak dirasakan oleh Rosmawar, meskipun ia tidak berharap, kerena ia lebih memilih membesarkan cucunya dengan biaya sendiri.

Setelah renungan itu selesai, Rosmawar dan cucuknya, Alia, segera pulang ke Medan. Sebelum ia tiba di Lampuuk, ia sempat tersesat karena ia pikir di Ule Lhee diadakan acara.[003]









Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close