THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Feature»Ketidakadilan di Aceh Bikin Andri Menjadi Punk


Ketidakadilan di Aceh Bikin Andri Menjadi Punk
Hayatullah Zuboidi | The Globe Journal
Jum`at, 16 Desember 2011 00:00 WIB
“Saya tidak dipaksa gabung ke komunitas punk, tapi jiwa saya, tidak ada unsur pemaksaan sedikitpun,” demikian pengakuan anak punk bernama Muhammad Yunus, yang akrab disapa Yunus, kepada The Globe Journal Selasa (13/12) saat sedang disuruh baris-berbaris oleh pembina di Sekolah Polisi Negara (SPN) Seulawah untuk dibina.

Yunus berasal dari Kuala Simpang, tepatnya di Gampong Sriwijaya, Aceh Tamiang. Bocah berumur 15 tahun itu sudah gabung ke komunitas punk selama setahun yang lalu. Setelah ia lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP) tidak langsung melanjuutkan ke Sekolah Menengah Umum (SMU) karena ekonomi keluarga yang kurang mendukung.

Bocah berkulit hitam itu sudah menganggur selama setahun usai tamat SMP, kedua orang tuanya masih hidup, tetapi keduanya sudah lama berpisah.

“Mamak sama bapak udah cerai bang,” ungkap Yunus dengan pelan karena takut kedengaran sama pembina yang sedang mengaturnya dalam barisan.

Anak dari pasangan Salbiyah dan Zulkifli ini bergabung dengan punk di Kuala Simpang. Awalnya dirinya tertarik melihat anak punk yang bebas, kemudian tanpa ada ajakan atau pemaksaan dari teman-teman punk, Yunus memilih untuk bergabung dengan kesadaran sediri dan tidak ada persyaratan apapun, yang penting memiliki pikiran yang sama dengan anak punk lain.

Bapaknya, Zulkifli dari Lhoksukon, Aceh Utara, Salbiyah, ibunya dari Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Sebelum Parade Music Penggalangan Dana untuk Anak Yatim di Taman Budaya Sabtu (10/12), mereka sudah tiba di Banda Aceh bersama teman-teman punk lainnya dari Jakarta, Bekasi, Jambi, Batam, Pekanbaru, Medan, dan punk Aceh sebagai tuan rumah Parade Music itu sendiri.

Yunus mendapatkan izin dari mamaknya ke Banda Aceh. “Tapi mamak belum tahu saya ditahan dan dibawa ke Seulawah, karena HP saya dan perlengkapan lain diambil polisi,” ujar bocah putus sekolah itu.

Untuk mempertahankan hidup selama bergabung dengan punk, Yunus sehari-hari menyablon dan membuat gelang. Hasil kreativitasnya itu meskipun tidak banyak, mereka tetap saling berbagi dengan teman-temannya untuk makan.

“Kalau di Kuala Simpang kadang saya pulang ke rumah untuk makan,” ungkap anak ketiga dari lima bersaudara. Cuma Yunus yang memilih hidup sebagai anak jalanan.

Pada waktu yang bersamaan, Andri anak punk asal Banda Aceh mengatakan, alasan dirinya bergabung dengan punk karena melihat banyak ketidak adilan di Aceh.

Katanya mereka sepaham dengan mahasiswa yang menuntut keadilan yang sering berdemo di jalan-jalan.

“Banyak ketidakadilan, makanya kami berontak, tapi kami tidak seperti mahasiswa demo-demo, kami dari pikiran bang,” curah siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Banda Aceh usai kepalanya diplontos polisi di SPN Seulawah.

Andri berharap dirinya dipulangkan ke asalnya karena ia masih sekolah, apalagi sebentar lagi mau ujian. Mamak Andri sudah tahu dirinya dibawa ke Seulawah.  “Tapi saya sengaja tidak mengizinkan mamak untuk datang”.

Selama bergabung dengan punk, Andri merasa mandiri, tidak pernah minta-minta lagi pada orang tuanya. Atas dasar itu orang tuanya tidak marah padanya untuk bergabung dengan punk.

Pandangan Psikolog
Psikolog Aceh, Juli Andriani, M.Si mengatakan, kenapa para punker membentuk idealis yang tinggi, pertama sekali ada sesuatu hal yang terjadi dalam diri mereka yang tidak mereka dapatkan jalan keluarnya. 

Mereka rata-rata masih di usia remaja. Kalau dalam psikologi perkembangan, usia remaja itu merupakan masa suatu proses pencarian jati diri dan konsep diri si anak.

“Jadi mereka mencari siapa diri mereka sesungguhnya. Kemudian lagi, masa remaja itu kita katakan masa yang penuh tekanan, konflik, ketidak tahuan. Sehingga ketidak tahuan mereka tadi membentuk idealis mereka menjadi lebih tinggi,”ungkap dosen Psikologi Islam itu kepada The Globe journal, Jumat (16/12) di Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry.

Juli menjalaskan, pada masa remaja itu mereka lebih mendengarkan kelompoknya sendiri atau genknya, ketika mereka mencari informasi itu di rumah, mereka tidak mendapatkan, sehingga malah mendapatkan diluar yang seperti itu.

Selain itu, mereka juga tidak mendapatkan  kasih sayang dari orang tuanya dirumah. Lalu, kenapa selama ini mereka bebas seperti itu karena orangtuanya belum memainkan perannya sebagai orang tua. Peran orang tua itu membimbing, mendidik anak, dan mengawasi anak, bukan menjadi polisi,untuk mendidik anak itu pun harus sesuai dengan usia si anak.

“Kenapa ini terjadi, karena kesalahan dari orang tua yang tidak mengawasi anak-anaknya mau berbuat apa, mau pergi kemana tidak mau tahu,”ujar Juli Andriani.

Menurut  Juli Andriani, dalam mendidik anak itu ada tiga gaya, permisif (jenis mengasuh anak yang cuek terhadap anak), otoriter (sistim mengasuh dengan pemaksaan), dan otoritatif (pola mengasuh anak dengan memberi kebebasan berkreasi).

Kalau anak diasuh dengan pola otoriter, segala sesuatu ada hukuman kalau mereka tidak melaksanakan, seperti didikan tentara, anak tidak boleh bernegosiasi sedikit pun. Lalu kenapa mereka tidak mau mandi dan segala macam, karena mereka terasuh dengan gaya perimisif.

“Anak mau pulang kapan saja silakan, sehingga ketika ada kelompok yang tidak ada aturan, maka mereka lebih cenderung menyukainya,”imbuh Juli.

Namun kata Juli lagi, untuk mengubah pola pikir mereka menjadi normal kembali perlu pendekatan yang sangat persuasif. Karena mereka sudah sangat idealis, dan itu sudah mengakar dalam hati dan jiwa mereka.

Namun kata Juli lagi pembinaan mereka di sekolah polisi itu kurang tepat, karena dengan cara seperti itu tidak akan mengubah idealis mereka. Malah mereka lebih keras jadinya.

“Boleh keras, tetapi harus mendidik, jangan keras malah akan melahirkan lagi generasi yang keras,”ujar Juli terakhir.[003]







    Redaksi:
    Informasi pemasangan iklan
    Hubungi:
    No Telp. 0651-741 4556
    Ponsel. 0852 619 222 25


    Komentar Anda

    Terpopuler

    Seni dan Budaya

    Jalan-Jalan

    Berita Foto

    «
    »
    Close