Bireuen - Sebagian Kecamatan dari 17 Kecamatan dalam kabupaten Bireuen
telah menerapkan jaga malam kepada warganya. Sebagian kecamatan lagi
telah dan baru merancang pelaksanaan itu dengan membetuk rapat antara
para Keuchik dengan pihak Kecamatan masing-masing. Seperti Kecamatan
Juli, Bireuen pada Senin (6/2) melakukan rapat membicarakan mekanisme
jaga malam.
Minggu malam (5/2) langit tak begitu terang, namun samar-samar cahaya
redup bulan sangat terasa malam itu. Satu persatu warga Desa Geulanggang
Teungoh, Kecamatan Kota Juang, berdatangan ke Pos jaga. Rata-rata
mereka yang datang itu membalut badannya dengan jaket, ada juga dengan
kain sarung, tapi tak satu pun terlihat diantara mereka yang membawa
peralatan jaga malam yang lazim, seperti parang, atau benda lainnya.
Begitu tiba di pos jaga mereka langsung menulis nama dan membubuhi tanda
tangan di buku yang telah dipersiapkan aparatur desa. Sebanyak 20 orang
yang berumur 18-50 tahun berkumpul di pos, diantara mereka ada yang
bercengkerama, ada juga yang asyik menyaksikan bola kaki di layar TV
yang disediakan di Pos, ada juga mondar-mandir di depan pos.
Sekitar pukul 22.00 WIB Keuchik Desa Geulanggang Teungoh M.Husain tiba
di pos jaga, Kedatangan pimpinan desa itu disambut hangat oleh petugas
jaga pada malam itu. Husain kepada warganya yang bertugas memberikan
arahan,"Kita melaksanakan jaga malam ini atas dasar surat edaran yang
kita terima, bila nanti ada persoalan dalam melaksanakan tugas kalian
malam ini seperti adanya orang yang mencurigakan, maling, kebakaran
silakan kalian hubungi nomor yang telah tertulis di papan tulis itu,"
kata Husian sambil menunjukan papan tulis yang terdapat di pos kepada
petugas jaga.
Husain juga menerangkan kepada warga di pos, untuk saat ini belum ada
pentujuk dari pihak Muspika terkait peralatan jaga malam.," Kalian
datang saja tanpa peralatan. Begitu juga setiap malam aparat selalu
masuk ke desa kita, mereka hanya melakukan patroli, kalian harus datang
ke pos pukul 20.30 dan pulang pukul 05.00," ujarnya seraya mengatakan
untuk silahkan anggota jaga malam memilih sendiri ketua dan wakil ketua
regu. Ia pun pamit dan meninggalkan regu yang bertugas malam itu.
Sudah 11 malam warga Geulanggang Teungoh menjalakan perintah jaga malam,
ini terbukti dari regu 11 yang berjaga malam itu. Angin malam terasa
dingin menggerayangi kulit, mengusik anggota jaga. Amir (39) seorang
anggota regu menarik jaketnya yang jatuh dan memakainya agar dingin
malam yang menusuk tulang dapat sedikit tertahan dengan jaketnya yang
tebal.
Lalu dia bergumam sendiri, "Ah...enaknya aku bakar sebatang rokok." Asap
rokok yang keluar dari mulut pria itu pun mengumpul diantara mulutnya,
pria lajang berkulit putih itu menghampiri saya, "Abang kena tugas jaga
malam juga,"tanya dia kepada saya. Sambil mengangguk saya mengajak dia
untuk berbagi cerita jaga malam dulu dan sekarang.
"Dulu bang," katanya mengawali pembicaraan rasa was-was dan takut selalu
membayangi setiap kena giliran jaga, "Sebentar-bentar masuk aparat
ditanya itu - ditanya ini, salah-salah menjawab, abangkan dah tahu
sendiri akibatnya," ungkap dia. Tapi sekarang tidak tahu juga bang
katanya, sebab yang tadi itu masa lalu, takut, kata Amir terdiam
sejenak.
Malam semakin sunyi diantara anggota jaga terlihat lelap di pos, ada
yang memisahkan diri dari pos. Ada yang duduk disudut-sudut rumah warga,
juga ada yang masih nonton TV. Sementara tiba-tiba mata saya melihat
nama-nama anggota jaga di dinding pos. Disana tertulis sebanyak 40 regu
jaga malam yang ditugaskan untuk jaga malam setiap malamnya. Setiap regu
berjumlah 18-20 orang, maklum desa saya tempat saya tinggal cukup luas
dan banyak penduduknya.
Tak terasa malam pun larut, satu persatu ayam mulai berkokok, lantunan
ayat-ayat suci Alquran mulai terdengar dari beberapa mesjid dan surau
desa yang bersebelahan dengan desa saya. Jam di Pos menunjukan pukul
05.00 WIB berarti itu tanda untuk pulang. Komandan regu membangunkan
anggotanya.
"Silakan kalian semua pulang, sebab kita sudah waktunya pulang," katanya
kepada sejumlah anggota jaga yang tertidur. Angin malam telah berlalu,
berganti angin pagi. Rasa takut jaga malam seperti dulu tak ada lagi,
buktinya tak ada patroli aparat seperti yang dikatakan kepala desa.
Kalau pun ada hanya patroli biasa. Meski demikian sampai kapan tugas
yang diperintahkan itu berhenti alias tidak ada lagi.