THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Feature»Bertemu Orang Asing di Pustaka Ali Hasjmy


Bertemu Orang Asing di Pustaka Ali Hasjmy
Hayatullah Zuboidi | The Globe Jornal
Selasa, 13 September 2011 00:00 WIB
Banda Aceh - Semenjak Alm Muhammad Ali Hasjmy Alias Al Hariry atau yang dikenal Ali Hasjmy meninggal, banyak peninggalan-peninggalan sejarah yang diwariskan. Salah satunya perpustakaan, yang diberi nama Museum Perpustakaan Ali Hasjmy  di Jalan Sudirman, Geuceu, Banda Aceh. Setiap bulan, pustaka dikunjungi  pengunjung dari luar negeri. Seperti sejarawan, budayawan, sastrawan, ulama, dan peminat kesenian lainnya.

Pegawai Perpustakaan A Hasjmy, Abu Bakar S, mengatakan kepada The Globe Journal, Selasa (13/9) sudah sangat sering dikunjungi oleh orang-orang asing dari berbagai negara di dunia dengan membawa rombongan, seperti orang Belanda, Jerman, Amerika, Malaysia, dan Negara-negara lainnya. Yang membuat mereka tertarik dengan perpustakaan ini karena banyak sekali sejarah Aceh, tersimpan dari sejarah kebudayaan sampai sejarah pendidikan, serta sejarah dunia juga ada.

“Mereka sangat suka, apalagi ada benda-benda sejarah. Mereka menjaga baik buku-buku di sini, tidak selembar pun ada yang rusak, bahkan setelah tsunami dulu ada yang bawa peralatan, apa yang rusak mereka perbaiki,”jelas Abu Bakar.

Perpustakaan gubernur Aceh periode 1957-1964 itu dikelola oleh keluarganya. Pada awalnya buku milik Hasjmy sebanyak 9.000 buku dan sekarang sudah banyak karena ada bantuan buku dari pemerintah, sehingga sekarang mencapai 20.000 buah.

“Kalau orang kita sendiri tidak banyak yang mengunjung, paling-paling 10 orang per hari, kadang-kadang ramai, tapi jarang,”ujarnya.

Perpustakaan itu menampilkan peralatan-peralatan A Hasjmy ketika ada seperti baju, kamera, radio, dan foto-foto kunjungan keluar negeri atau foto-foto pertemuan dengan perdana menteri luar negeri seperti Arab Saudi dan lainnya.

Selain itu juga tersedia senjata-senjata tajam miliknya seperti rencong, pedang, pisau, tombak, serta piagam-piagam yang pernah diperolehnya selama berkiprah di Aceh.

Di perpustakaan itu juga tersedia jaringan internet. Itu disediakan untuk pengunjung mau mengakses internet sambil membaca buku.

“Pernah sekali datang orang Jepang kesini sekitar seminggu di sini, tidak ada tempat tidur, mereka tidur di balai disamping perpustakaan. Mereka membuat katalog disini,” tukas Abu Bakar.

Selain itu pernah sekali datang seorang sejarawan dari Perancis  yang menulis di perpustakaan hingga menyelesaikan satu buku dalam kunjungannya itu. Akhirnya orang Prancis itu menikah dengan orang Aceh karena begitu cintanya terhadap sejarah.






Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close