THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Feature»Berburu Waria di Terminal Keudah


Berburu Waria di Terminal Keudah
Kamis, 26 Januari 2012 00:00 WIB
Teriakan bernada cempreng, nakal dan genit-menggoda menggema di sekitar Terminal Angkutan Penumpang Kota (APK) yang lebih sohor disebut terminal labi-labi. Suara tersebut berasal dari sekelompok waria. Sesekali mereka berteriak panik saat sekelompok pemuda tanggung mengganggu dengan ejekan yang melecehkan.

Sebagian bercakap dalam bahasa slang khusus waria. Kosa kata Lekong, capcus, nek, mewarnai atmosfer malam berbalut remang.

Dini hari hingga subuh, terminal labi-labi Keudah menjadi central bagi waria-waria yang melakukan aksi menjaring hidung belang yang hendak menuntaskan birahi.

Disana, puluhan lelaki memanfaatkan bangku tembok untuk sekedar duduk bersama atau bahkan menunggu seorang waria yang sesuai selera. Tak jarang pelanggan datang dengan kendaraan roda dua dan roda empat. Terkadang sekedar menggoda. Usia mereka  antara 17 — 40 tahun.

Menurut BB (29) yang berasal dari Medan, selain menjajakan jasa ‘celup’ ia juga pekerja rumah kecantikan (salon) di Peunayong. Lelaki hidung belang yang memanfaatkan layanan seksnya beragam usia, umumnya belia. Ia tak memiliki kriteria khusus pelanggan, “Asal ada uang aja,” ujarnya sembari tertawa genit. “Sekali celup minimal 50 ribu, plus kondom”, ungkapnya blak-blakan.

Aksi mereka terbilang atraktif. Terkadang menaikkan tepi rok mini, memanggil dengan gaya centil, bahkan menurunkan belahan baju untuk memamerkan buah dada artifisialnya. Jika tawar-menawar mencapai harga pas, mereka langsung menuju belakang gedung penjagaan terminal atau belukar di antara Jalan Teratai dan Terminal APK menuntaskan hasrat.

Di pintu masuk terminal APK Keudah KR (22), berjalan melenggang sambil melenggokkan tubuh lenturnya yang berbalut busana minim. Gesture-nya tampak lebih luwes dari seorang perempuan. KR sedang berupaya menggaet seorang calon pengguna. Sesekali memancing dengan sentuhan nakal di area vital tubuh lelaki yang menjadi sasaran. Tak jarang ia memeluk atau menggelayut manja di bahu calon mangsa.

Layaknya pedagang asongan, BB, KR dan rekan sejawatnya beraksi melambaikan tangan pada kendaraan yang melintas, menawarkan sensasi kehangatan alternatif. ”Bukaan harga biasanya 100 ribu,” ujarnya. Jasa tersebut sepaket dengan kondom sebagai komplemen, persis penuturan BB. “50 ribu itu tawaran minimal,” paparnya.

LL (24) juga mempunyai cara serupa “Pokoknya celup atau isep minimal 50 ribu,” ia juga mengakhiri penjelasan dengan frasa ‘sudah termasuk kondom’.

VR (26) sedikit berbeda, sikapnya lebih pendiam dibandingkan kaum sebangsa. Ia biasa mangkal di depan Meutia Hospital. Tampilannya lebih bergaya karena selalu bertengger di atas jok Mio Soul-nya saat menanti penikmat jasa. Sesekali ia merapikan polesan make-up. VR tak centil dan genit menggoda pelanggan “Saya tak pernah menghampiri laki-laki, biar mereka aja yang datang kepada saya kalau mereka butuh,” ujarnya dengan nada ketus. VR juga mematok harga lebih “100 ribu harga paling murah, tapi kalau kawan-kawannya bahkan ada yang 20 ribu,” ujarnya.

JN (18), seorang pemuda yang terlihat sedang tawar-menawar dengan KR berujar “Saya baru saja dirayu oleh KR, dia bilang 50 ribu. Pas ditawar 10 ribu, dia nggak mau,” ungkapnya.

Subuh sudah memberi tanda dari pengeras suara mesjid sekitar, pelanggan telah sepi berlalu-lalang, VR, KR, BB beranjak pulang. Meninggalkan Jalan Teratai dan Terminal Labi-Labi Keudah yang menjadi etalase dagangan. (MNA/atjehlink/zamroe)






Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close