THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Feature»Berburu Si Hitam 17 Agustus


Berburu Si Hitam 17 Agustus
Muhajir Juli I The Globe Journal
Rabu, 03 Agustus 2011 00:00 WIB
Matahari menancapkan sinarnya yang panas pada setiap jengkal tanah yang tidak tertutup. Semerbak panas membuat setiap jiwa yang bernyawa seolah enggan untuk keluar dari peraduan. Burung-burung pun tak terlihat ada yang bercericit dari dahan ke dahan. Lengkaplah sudah cuaca terik membuat Ramadhan semakin berat. Tanggal masih setia pada angka 03 Agustus 2011.

Namun semua itu tidak berlaku bagi Dek Gam (20). Pemuda yang tidak sempat menamatkan bangku Sekolah Menengah Pertama tersebut seolah tak merasakan apa-apa. Dengan langkah sigap dia mendaki bukit yang lumayan terjal untuk ukuran orang awam. Sesekali dia melihat kebawah sambil mengumbar senyum. Seolah dia mengejek kami yang sedang tertatih-tatih dengan nafas tersengal-sengal mendaki bukit yang dipenuhi oleh ilalang yang tak subur.

"Cepat, sebentar lagi kita sampai. Diujung sana ada pohon jomlang yang sedang berbuah. Ayo jangan lambat. kalau sedikit saja telat, pohon itu sudah dipanjati anak-anak," seru Dek Gam dari atas bukit. Seorang kawan yang kebetulan berada dibelakang penulis mengeluh."Huh dasar tu orang, untung puasa kalau tidak puasa sudah kuceramahi dia," kata sang kawan dengan nada jengkel.

Penulis hanya tersenyum. Namun pendakian masih agak tinggi. Sialnya tak satupun pepohonan yang tumbuh dijalur jalan mendaki itu. Padahal hampir semua sisi bukit itu ditumbuhi pohon. Akhirnya saat nafas tinggal "dua ons" lagi, sampailah kami ke atas puncak bukit. Dek Gam nampak sudah agak lama menunggu. Wajahnya masih menunjukkan seringai mengejek. Sambil bangun dari duduknya dia sempat mengejek kami.

"Ah dasar anak kuliahan. Malahan yang satu tak tamat-tamat. Diajak naik bukit yang segini aja sudah kelelahan. bagaimana mau merubah negara ini," Kata Dek Gam sambil memetik bunga rumput. Kemudian dihembusnya kembali ke udara. Penulis paham kemana arah kalimat Dek Gam itu. Itu ditujukan untuk penulis. Walau diantara kami ber enam ada dua orang yang sebaya, namun yang belum tamat kuliah dan sudah semester akhir sekali adalah penulis. Namun karena misi hari ini adalah hendak melihat langsung Jambe kleng yang sedang berbuah, rasa jengkel dihati dengan sangat terpaksa harus ditahan.

Setelah cukup beristirahat. Dek Gam kemudian mengajak kami menelusuri semak-semak belukar, kemudian mendaki lagi melewati hutan jati dan akhirnya sampailah kami pada puncak bukit. Terlihat batang-batang pohon Jambe Kleng berdiri diantara bibir-bibir jurang permai. Sepintas tak ada yang istimewa dari tumbuhan yang tumbuh subur ditanah yang dipenuhi karang dan batu. Namun setelah ditelisik dengan seksama, diantara ujung-ujung tangkainya bergelantungan dengan indah buah-buahnya yang berwarna hitam mengkilap. Air liur langsung mencoba keluar dari mulut yang lengket. namun terpaksa dihentikan karena ingat masih dalam status puasa.

Tanpa dikomando, Dek Gam dan seorang temannya yang menyebut namanya Iqbal langsung memanjati pohon Jambe Kleng. dengan sigap mereka merayap sampai ke ujung dahan. Ada rasa ngeri bagi kami yang berdiri dibawah. Kalau saja salah satu cabang itu patah, sudah pasti kedua anak manusia itu akan terjun berguling ke bawah. Penulis membayangkan kalau saja itu terjadi, walaupun tidak menemui ajal, setidaknya mereka pasti babak belur. Namun ketakutan penulis tidak menjadi kenyataan.

Dengan santai kedua mereka memetik bulir-bulir yang sudah matang itu. Bentuk buahnya bulat. Bila belum tua berwarna hijau. Bila sudah tua dan siap dimakan, warnanya akan berubah hitam mengkilap. Ukurannya tidak besar-besar. paling besar hanya sama seperti ukuran kelereng. Walau kecil dan berbiji, namun buahnya agak berair atau istilah orang Eropa sana "juicy". Buah yang dalam bahasa Indonesia ini disebut Jomblang, hanya akan berbuah bila mendekati bulan Agustus.

Di bulan Juli sudah mulai bisa kita temukan buah tersebut dipasaran. Namun harganya masih mahal. Sekitar Rp 20.000 per kilogram. Buah yang berasa manis agak kelat itu baru akan banjir pada bulan Agustus. Puncaknya adalah pada tanggal 17 Agustus sama seperti hari kemerdekaan Republik Indonesia. Tak ada keterangan pasti apakah memang ditanggal itu puncak buah tersebut matang, ataupun memang banyak dijual sebab ditanggal yang keramat bagi bangsa Indonesia itu hampir seluruh golongan manusia berkumpul disatu titik untuk melihat karnaval kemerdekaan.

"Bagaimana, apa kita cari pohon yang lain?," tanya Dek Gam membuyarkan lamunan penulis yang sedang berkhayal menjadi penjual Jambe Kleng. Setelah mendapat anggukan, Dek Gam kemudian mengajak kami untuk kembali sedikit mendaki. kemudian turun lagi. Dari puncak Bukit yang termasuk wilayah Gampong Pante Gajah, nampak sekali tiang tower Telkomsel yang berada ditengah Kota Matang seperti besi runcing kecil.

"Itu bang banyak buah 17 Agustus," kata Dek Gam. Kami melihat kerah yang ditunjuk itu. Sebatang besar yang agak tertutup tumbuhan menjalar. Nampak diujung-ujung rantingya bulir-bulir hitam sedang menggoda kami. Namun karena semua kami berpuasa, maka dengan terpaksa godaan itu kami lawan. Dek Gam dan Iqbal kemudian kembali memanjati pohon itu. Kami yang lain kembali duduk di rerumputan. Selain memang kelelahan, diantara kami juga tidak ada yang berani memanjat.

Lima belas menit kemudian mereka turun. Ditangan masing-masing mereka sudah memegang kantong plastik yang berisi buah 17 Agustus itu. Dengan Wajah cerah, kantong yang dipegang Dek Gam diserahkan kepada penulis. Kawan-kawan yang lain spontan melihat kearah The Globe Journal dengan rasa iri. Dek Gam pun tersenyum. Kemudian sambil berbisik ditelinga dia katakan "Ini hadiah untuk abang wartawan. Sebab saya sudah membawa abang dan kawan-kawan lain dari jalur yang salah. Padahal ada jalan yang dekat untuk mencapai puncak ini," Kata Dek Gam sambil kemudian berlari.

Penulis langsung lemas. Demikian pula kawan-kawan yang lain. Kemudian Dek Gam menunjuk jalan yang paling dekat. Aduh, rupanya hanya berjarak 1 kilometer. Padahal tadi kami sempat dibawa jalan-jalan sekitar 3 kilometer. Apes-apes. Walau sempat dikerjai oleh seorang lelaki yang tak tamat SMP itu, namun tak ada satupun diantara kami yang jengkel (kelihatan dari luar, dihati siapa yang bisa nebak).

Dengan perasaan gembira kami menuruni bukit itu. Sesekali penulis melirik kearah kantong yang berisi Jambe Kleng. Nanti sampai dirumah akan dicampur dengan bumbu rujak. Pas waktu berbuka langsung disantap. Rasanya pasti manis-manis kelat dan pedas. hmmmm.






Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close