THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Feature»Berbasah-basah di Air Terjun Suhom


Berbasah-basah di Air Terjun Suhom
Firman Hidayat | The Globe Journal
Minggu, 04 September 2011 00:00 WIB
Lokasi wisata alam air terjun ini kurang lebih hanya berjarak 50 Km dari Kota Banda Aceh. Mumpung untuk menuju ke lokasi wisata ini, kondisi jalannya terbilang mulus dan licin bak jalan internasional. Setelah diporak-porandakan tsunami pada akhir tahun 2004 lalu, ruas jalan pantai barat ini dibenahi oleh Amerika melalui lembaga donornya USAID. Hampir enam tahun diperbaiki, jalan dari Kota Banda Aceh hingga Lhoong, Aceh Besar sudah “nyaris tak terdengar.”

Dua gunung dan beberapa bukit terlewati. Gunung Paroe dan Gunung Kulu menjadi destinasi alam yang juga patut disambangi. Panorama alam yang terlihat dari atas dua gunung itu membuat “dua sejoli” saling bercengkrama dan semakin betah bercerita untuk masa depannya. Monyet-monyet juga ikut menghibur pengendara yang lalu lalang di gunung yang berkelok-kelok tersebut.

Sampai dipersimpangan jembatan Desa Krueng Krueng Kala, berbelok ke kiri. Hanya berjarak dua kilometer lagi kita akan sampai ke wisata air terjun “Suhom.” Jangan lupa gaya bertamu orang Aceh, masuk berikan salam, keluar juga harus berikan salam. Awalnya kita menjumpai Masjid yang sedang direnovasi, didepannya ada sekawanan pemuda yang sedang duduk-duduk di Poskamling Desa Krueng Krueng Kala.

Ucapkan salam dan berikan sedikit sumbangan seikhlasnya untuk pembangunan masjid. Kemudian berlalu hingga kita akan banyak berhadapan dengan “polisi-polisi tidur” hingga ke kawasan Suhom. Ruas jalannya juga tidak terlalu besar, kadang kita memang harus antri dan bersabar. Setelah kita jumpai pos selamat datang di kawasan “Suhom,” akhirnya kita sampai ke lokasi setelah melewati Desa Baroh Krueng Kala dan Desa Tunong Krueng Kala.

Petugas pengelola kawasan wisata ini tak mahal-mahal mengambil iuran masuk perkenderaan dan perorang. Katakanlah dengan Mobil hanya diambil Rp5.000,-. Kemudian perkepala juga dikutip Rp2.000,-. Kemudian kita berjalan kaki di kawasan yang luasnya hampir dua hektar tersebut. Air Terjunnya tidak seperti “Niagara” tapi dinginnya bukan main. “hati-hati, karena disekitar air terjun itu ada lokasi yang sangat dalam,” kata Yulizar salah seorang Ketua Kelompok Pengelola Kawasan Wisata “Suhom” tersebut.

Kepada The Globe Journal, Minggu (04/9) pagi tadi Yulizar dan beberapa temannya banyak bercerita tentang kawasan wisata ini.

Ia berkisah, kawasan air terjun “Ie Suhom” ini dikelola oleh tiga desa, yaitu Desa Krueng Krueng Kala, Desa Baroh Krueng Kala dan Desa Tunong Krueng Kala. Kawasan ini merupakan kebanggaan kami, “karena banyak sekali manfaat yang kami dapatkan,” kata Yulizar.

Kepedulian sosial terbina dengan baik. Kegiatan keagamaan, kegiatan kepemudaan dan olah raga bisa terlaksana dengan baik dari hasil pengelolaan kawasan wisata tersebut. Menurut Yulizar setiap iuran masuk ke kawasan ini dipertanggung jawabkan untuk kemaslahatan tiga gampong tersebut.

Wisata air terjun ini mulai dikelola sejak tahun 1996. Pada tahun 80-an kawasan ini lebih dikenal dengan tempat pemandian orang-orang cina. Apalagi jika musim buah durian, banyak orang cina yang berdatangan ke lokasi ini. Pada tahun 80-an, pemerintah juga pernah membangun tanggul irigasi di kawasan ini, kemudian bangunan irigasinya diperbaiki lagi pada tahun 1999. Hingga saat sekarang kondisi tanggul irigasinya tidak pernah disentuh untuk renovasi lagi.

Tsunami, akhir Desember 2004 lalu juga meluluh lantakkan tiga desa di kawasan wisata itu. Ratusan masyarakat semua berlarian ke gunung air terjun “Suhom.” Banyak yang selamat dari bencana nomor satu dunia itu. Saat itu juga, kawasan wisata ini dijadikan sebagai tempat pengungsian masyarakat untuk tiga desa tersebut. Secara perlahan rehab rekonpun berjalan dengan baik.

Tahun 2006, IBK yang difasilitasi oleh Coca Cola dan Badan Nurani Dunia masuk ke kawasan wisata alam air terjun. Lembaga kemanusian ini membangun sumber listrik tenaga air (PLTA) atau Mikrohidro yang menghasilkan 40.000 kilowatt dari air terjun “Suhom” itu. Yulizar mengatakan masyarakat di tiga desa sudah menikmati listrik selama dua tahun dari air terjun itu, yaitu tahun 2006 hingga tahun 2008.

Kemudian mesin travo listrik tersebut rusak, dan warga memperbaiki secara mandiri tanpa dibantu oleh siapapun. Tahun 2009 lalu, kami mencoba mendekati salah satu Bank di Aceh untuk permohonan kredit investasi PLTA ini. Setelah diamini oleh pihak Bank, maka mesin travo tersebut kami perbaiki, dan sebanyak Rp1.200 /Kwh arusnya dijual ke PLN. Hingga saat ini kami sudah mampu menutup kredit pada Bank hingga Rp 7 juta setiap bulannya.

Inilah yang membuat kami harus mempertahankan debit air “Ie Suhom,” dengan membentuk Komitee Glee yang bertugas untuk menjaga hutan dan kawasan dari gangguan tambang, penebangan pohon dan kerusakan-kerusakan lingkungan lainnya.

Sukardi, Sekretaris pengelola kawasan wisata “Ie Suhom” mengatakan manfaat air terjun ini selain digunakan untuk wisata juga dipakai untuk mengaliri 60 hektar sawah milik masyarakat di tiga desa. Sehingga saat ini Pemerintah Aceh Besar sedang melakukan pendekatan dengan masyarakat untuk membuat kelompok sadar wisata. “Kami berharap agar pemerintah melakukan pemugaran lokasi ini supaya terkesan lebih asri lagi,” kata Sukardi.

“Kami masih berfikir bagaimana kami harus berkerja sama dengan pemerintah untuk mengelola kawasan wisata ini, bagaimana pola dan manajement harus dihasilkan secara bersama-sama,” sahut Yulizar yang didampingi oleh sekretarisnya Sukardi.

Terkait omset yang diperoleh dari pengelolaan kawasan ini, Sukardi mengakui sangat berpotensi besar untuk PAD jika lokasi wisata ini di pugar lagi supaya lebih menarik. “Sabtu (03/9) saja masih dalam suasana lebaran Idul Fitri 1432 Hijriah, sedikitnya ada 1.000 orang yang masuk ke kawasan wisata ini. Belum lagi hari ini, Minggu (04/9),” kata Sukardi lagi. Mengujungi kawasan air terjun “Suhom” ini hanya boleh dilakukan pada hari-hari biasa kecuali hari Jum’at. Waktu berkunjungpun dibatasi hingga Pukul 20.00 WIB.

Akhirnya setelah menikmati dinginnya air terjun “Suhom” ini,, jika hendak meninggalkan lokasi maka jangan lupa ucapkan salam dengan mengangkat tangan kanan sebagai rasa saling menghargai kepada orang-orang gampong. Semoga kita selamat sampai tujuan dan sampai jumpa lagi.
 







Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close