SerambiFeatureBelajar Jurnalistik dari Empat Punggawa Pers
Belajar Jurnalistik dari Empat Punggawa Pers
Selasa, 29 November 2011 00:00 WIB
Sabtu pagi 26 kemarin, hujan mengguyur bumi sekitar Banda Aceh dengan lebatnya, tapi gagal membuat peserta pelatihan jurnalistik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Syiah Kuala (Fkip Unsyiah) ciut. Mereka terus saja memadati gedung FKIP lama, tak kurang sembilan puluhan peserta hadir pagi itu.
Ada pelatihan yang diadakan Badan Eksekutif Mahasiswa FKIP Unsyiah yang akan mereka nikmati, umumnya yang hadir adalah mahasiswa FKIP Unsyiah, ada juga yang dari politeknik Aceh, IAIN Ar-Raniry dan Fakultas Hukum serta Fisipol Unsyiah. Selain itu tamu dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Banda Aceh dan Aceh Besar.
Jam sembilan lewat, pemateri, tamu dan peserta terlihat berjejer dalam ruang Auditorium lama FKIP itu. Terdengar ucapan Assalamualaikum dari cewek kulit sawo matang yang berdiri dekat kiri dinding sebelah depan peserta, namanya Mona, dia Master of Ceremonies (MC) acara tersebut. Seisi ruangan terlihat santai melewati sesi pembukaan. Ketua panitia, Rahmat Nutihar membaca laporan panitia, kemudian diikuti Sopian Ketua BEM FKIP memberi kata-kata sambutan, dan dilanjutkan dengan Safruddin yang membuka acara. Safruddin, mantan ketua BEM FKIP periode 2009-2010 itu ditunjuk oleh PD III sebagai penggantinya.
Murdani yang menjadi pemateri pertama, pewarta senior harian Aceh itu mengajarkan dasar-dasar jurnalistik dan teknik wawancara. Ia menyampaikan beberapa pendapat mengenai jurnalistik, salah satunya pendapat Kris Budiman, dan Luwi Ishwara (2005). Menurut Kris Budiman kegiatan jurnalistik dimulai dari penyiapan, penulisan, penyuntingan, dan penyampaian berita pada publik melalui saluran tertentu, seperti televisi, radio, surat kabar, majalah atau sejenisnya, dan media online, jelas pria yang akrab disapa bang Mur itu.
Pengertian berita, jenis berita, nilai berita (News value), anatomi dan unsur-unsur berita menjadi bahasan awal pria bertubuh sedang itu. Selanjutnya dilanjutkan materi wawancara. Seisi auditorium terlihat antusias mendengarkan bahasan materi hingga selesai.
Wartawan Vivanews melanjutkan materi ragam berita, tapi pria berkulit putih itu lebih memperdalam penjelasannya pada anggle, sumber berita, dan persiapan penulis menjadi jurnalis. Muhammad Riza Nasser nama pewarta media online nasional itu. Modal menjadi jurnalis, “banyak membaca, melek informasi, perluas jaringan pertemanan, jangan mudah percayai narasumber dan selalu cek informasi, pelajari kode etik dan Undang-undang Pers (UU No, 40 tahun 1990)”. Ia memberi materi hingga jam 12.00.
Mentari mulai bergeser arah barat, kira-kira jam 14.00 WIB lewat. Ketua panitia bersama pria berkamata dengan kemeja kotak-kotak lengan pendek, Maimun Saleh, menuju ruangan lantai dua. Sebagian peserta terlihat masih nyantai di luar gedung yang dibangun USAID itu. Tak lama suara dari dalam ruang terdengar seperti himbauan, untuk peserta yang masih berada diluar agar segera memasuki ruangan.
Tak menunggu lama MC langsung memperkenalkan pemateri, Maimun Saleh, Rektor MJC, terlihat membuka laptopnya. Tak lama pria yang akrab disapa pak maimun itu langsung menyapa peserta. Kode etik jurnalistik yang disajikan pada siang itu, mencontohkan pelanggaran kode etik yang dilakukan wartawan Aceh selama ini. Pak Maimun yang kocak membuat peserta cair dan akrab dengan pemateri.
Wartawan dalam membuat berita wajib memperhatikan kode etik jurnalistik pesan Maimun. Saking kocaknya Pak Maimun hampir lupa waktu diberikan oleh panitia. Kode etik Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang dia sampaikan. Jam 15 sudah berlalu, Pak Maimun Saleh pun mengakhiri materinya.
Pemateri selanjutnya Herman RN yang sudah menunggu diluarpun langsung masuk didampingi Ketua panitia. Mantan Redaktur Harian Aceh itu langsung bersalaman dengan Maimun Saleh, mereka terlihat akrab. Lagi MC berdiri mengucap salam dan memperkenalkan pemateri terakhir pelatihan jurnalistik hari itu.
Herman RN yang juga merupakan dosen bahasa dan sastra Indonesia FKIP Unsyiah memberi materi menulis feature, materi yang ditunggu-tunggu peserta. Meski sudah seharian peserta begitu serius mendengar penjelasan cara membuat news, features, beberapa peserta terlihat mencatat poin-poin materi yang disampai pria yang lahir di Nagan Raya itu.
Ia juga memperlihatkan beberapa tulisan featuresnya yang pernah dimuat beberapa media. Menulis feature hampir sama dengan menulis cerpen, yang membedakan feature dengan cerpen hanya faktanya saja, Herman RN mejawab salah satu penanya. Hampir satu jam berlangsung materi dan diakhiri dengan tanya jawab. Jam 17.00 Herman pun mengakhiri materinya dan acarapun langsung ditutupnya dengan ucapan “Selamat Menulis”.