Logo The Globe Journal - Original
Promosi Pasang Iklan - Nomor HP Riswan
PT. THE GLOBE JOURNAL, penerbit Koran Online THE GLOBE JOURNAL bertekad untuk terus melakukan inovasi mengembangkan media yang sangat diminati sejak 2007 ini. Untuk itu kami mencari INVESTOR, SPONSOR, PARTNER untuk bekerjasama dengan tim kami dalam mengembangkan bisnis di sektor media, periklanan, printing, teknologi, dan mice yang sangat potensial. Jika Anda tertarik untuk bekerjasama dengan kami, silahkan kirimkan informasi ketertarikan Anda ke email: e.rxdhi@gmail.com atau Hotline 0819-7390-0730. [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda untuk tindaklanjutnya. []

Breaking
News

Serambi»Ekonomi»Lakoe Siapkan Pematang, Binoe Menyirami Lahan


Lakoe Siapkan Pematang, Binoe Menyirami Lahan
Muhajir Juli | The Globe Journal
Minggu, 18 Maret 2012 19:21 WIB

Bireuen - Hidup miskin bukan untuk diratapi, tapi untuk disyukuri. Kekurangan ekonomi bukanlah alasan untuk berdiam diri dan mengutuki nasip. Namun kepapaan merupakan tantangan yang harus mampu dijawab.

Itulah mengapa Mustafa (58) warga Ujong Blang Aron Kecamatan Kuala Bireuen terus menimba air dan menyirami pematang kangkung dan bawang yang ditanaminya di lahan seluas 450 meter persegi. Dengan cekatan tangan lelaki itu menimba air dan kemudian menyiramkannya ke atas helai-helai dedaunan yang menghijau itu.

Menyiram kangkung bukanlah pekerjaan utama lelaki beranak 10 itu. Pekerjaan tersebut hanya dilakukan ketika kerja diluar tidak ada. Untuk mengurangi beban sang istri tercinta yang telah memberikannya putra-putri belahan jiwa, maka gembor yang biasanya berada di tangan sang istri beralih tangan kepadanya dalam seminggu ini.

Lazimnya masyarakat Gampong Ujong Blang lainnya, bertanam sayur-sayuran merupakan rutinitas yang telah mampu menghidupi keluarga. Dalam keseharian mengelola dedaunan konsumsi itu, para suami bertugas menyiapkan lahan siap tanam. Untuk proses perawatan tanaman akan diserahkan kepada para istri. Sebab kaum Adam harus menjemput rezeki dari sektor lain.

“Kami saling membagi tugas. Sebagai laki-laki, yang berat-berat seperti menyiapkan lahan, itu tugas kami. Sedangkan untuk proses menyiram dan menyiangi rumput, biasanya akan dilakukan oleh ma awak nyoe,” terang Mustafa sambil terus bekerja.

Kepada The Globe Journal, Minggu (18/3) sekitar pukul 17.00 WIB Mustafa mengakui, tak banyak Rupiah yang dihasilkan dari bercocok tanam sayuran muda. Namun, juga sangat membantu. Bagi dirinya, tidak ada waktu untuk bermalas-malasan. Sebab tidak ada yang bisa diharapkan mampu membantu mengeluarkan dirinya dari kemiskinan selain dirinya sendiri.

Untuk 1 kg bibit kangkung, dia akan mendapatkan sekitar 1000 ikat kangkung siap jual. Durasi tanam sekitar 20 hari. Bila cuaca tergolong bersahabat, maka dalam usia 18 hari oun rumpun itu sudah bisa di panen.

Demikian pula dengan bawang yang dia tanam. Namun untuk bawang, dibutuhkan waktu sebulan untuk dapat dipanen daunnya.

Tak beda dengan Mustafa, M. Yusuf (50) warga Kuta Baroe Kecamatan yang sama juga mengatakan demikian. Dia juga menambahkan, sekarang ini pasar lagi baik. Harga sayur yang mereka tanam diterima dengan harga yang bagus. Kangkung satu ikat dihargai Rp. 400. Daun bawang Rp.800. Sawi dan Bayam juga Rp. 800 sampai seribuan.

“Harga demikian kita jual kepada agen pengumpul. Sekarang lagi bagus pasarannya. tapi bercocok tanam sayuran muda, banyak tantangannya. Harga akan turun bila musim panen padi selesai. Sebab setiap sawah yang tunggu musim baru, akan ikut ditanami tumbuhan yang sama,” terang Yusuf.

Amatan The Globe Journal, perilaku memanfaatkan lahan kosong untuk menanam sayur mayor telah begitu mengental di dalam masyarakat. Dihalaman rumah warga yang saya lewati yang terlihat hamparan sayur mayur seperti kangkung, bayam, sawi, tomat, bawang dll.

Bagi masyarakat di Kuala, berdiam diri bukanlah pilihan bila lahan masih ada yang terlantar. Selain keluarga rutin mengkonsumsi sayuran, pendapatan tambahan juga mampu dihasilkan dari bulir benih yang kemudian berubah menjadi dedaunan hijau yang menggugah selera dan membuat pandangan menjadi segar.

Tidak heran pula, bila pendatang sibuk menikmati deburan air laut yang dekat dengan lokasi mereka bercocok tanam, bagi warga Ujong Blang Aroen, Kuta Baroe, Ujong Blang Mesjid dan beberapa gampong lainnya, warga disini lebih memilih mengasyikkan diri dalam pematang sayur yang memberikan harapan, bahwa besok hidup masih berlanjut.






Twitter TGJ 3
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Cities

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close