Logo The Globe Journal - Original
Promosi Pasang Iklan - Nomor HP Riswan
PT. THE GLOBE JOURNAL, penerbit Koran Online THE GLOBE JOURNAL bertekad untuk terus melakukan inovasi mengembangkan media yang sangat diminati sejak 2007 ini. Untuk itu kami mencari INVESTOR, SPONSOR, PARTNER untuk bekerjasama dengan tim kami dalam mengembangkan bisnis di sektor media, periklanan, printing, teknologi, dan mice yang sangat potensial. Jika Anda tertarik untuk bekerjasama dengan kami, silahkan kirimkan informasi ketertarikan Anda ke email: e.rxdhi@gmail.com atau Hotline 0819-7390-0730. [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda untuk tindaklanjutnya. []

Breaking
News

Serambi»Kesehatan»Bayang-bayang HIV/AIDS di Antara Fatanah dan Perempuan Simpanannya


Bayang-bayang HIV/AIDS di Antara Fatanah dan Perempuan Simpanannya
Sabtu, 18 Mei 2013 09:32 WIB

Jakarta - Cerita wanita-wanita sekitar Ahmad Fathanah dan kehidupan seseorang yang gonta-ganti pasangan menjadi perhatian dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Ari Fahrial Syam.

Ia terpanggil untuk mengingatkan bahwa kehidupan seks bebas berisiko berbagai penyakit, terutama Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Berdasarkan pengalaman klinisnya sebagai dokter spesialis penyakit dalam, pasien HIV ada pada semua kalangan.

Penyakit ini bisa mengenai semua profesi. Ibu rumah tangga (IRT) yang tidak gonta-ganti pasangan pun menderita HIV, karena mungkin tertular dari suaminya yang suka “jajan” diluar.

Menurut Ari, dari sudut kesehatan, gonta-ganti pasangan berisiko terkena penyakit. Kelompok penyakit akibat gonta-ganti pasangan ini dimasukan sebagai sexually transmitted disease (STD).

Selain penyakit STD, para wanita yang gonta-ganti pasangan berisiko terkena kanker mulut rahim. Sedangkan untuk laki-laki, penyakit itu akan menambah risiko menderita kanker prostat di kemudian hari.

“Pasien HIV positif atau hepatitis B atau C sama dengan orang normal, yang tanpa infeksi virus tersebut. Yang membedakan, di dalam darah pasien mengandung virus tersebut, sedang yang lain tidak. Ketiga penyakit virus ini dapat ditularkan melalui hubungan seksual,” paparnya.

Oleh karena secara fisik tidak dapat dibedakan siapa yang mengandung virus sangat berbahaya tersebut, seseorang berisiko mengalami penyakit infeksi yang berbahaya dan mematikan jika berhubungan seks dengan yang bukan istrinya. Apalagi, fase tanpa keluhan penderita infeksi virus ini dapat berlangsung 5-10 tahun hingga menampakkan gejala.

“Saya sering mendapatkan pasien mengalami HIV AIDS saat ini dan diduga tertular lima atau sepuluh tahun yang lalu. Pasalnya, mereka menyampaikan setelah menikah lima tahun belakangan ini mereka tidak pernah berhubungan seks dengan orang lain, kecuali istri atau suami sahnya,” ungkap dia.

Ari menjelaskan, penyakit HIV AIDS merupakan penyakit yang berbahaya dan mematikan. Penyakit ini disebabkan oleh virus HIV, yang sampai saat ini belum ditemukan vaksin yang established dan dapat digunakan secara luas.

Namun demikian, obat-obat anti retroviral (ARV) saat ini sudah mampu menekan jumlah virus hingga tidak terdeteksi lagi. Berdasarkan bukti klinik, pengobatan dengan ARV bisa menekan penyebaran virus sampai lebih dari 90%.

Di Indonesia, tambah dia, ARV saat ini masih gratis dan akses mendapatkannya mudah. Namun, angka penggunaan ARV di Indonesia masih rendah. Pasien-pasien HIV tidak mau mengonsumsi ARV dengan berbagai alasan, seperti ingin lebih cepat menghadap Yang Maha Kuasa.

Menurut Ari, gejala klinis akibat virus baru muncul pada penderita infeksi HIV yang sudah lanjut, jika daya tahan tubuhnya sudah menurun.

Berbagai infeksi oportunistik akan muncul, seperti sariawan karena jamur kandida, TBC paru, infeksi otak, diare kronik karena infeksi jamur atau parasit, dan timbul hitam-hitam di kulit.

Selain itu, pasien HIV yang sudah masuk tahap lanjut ini berat badannya turun. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan jumlah leukosit akan kurang dari 5.000 dengan limfosit kurang dari 1.000.

“Diare kronik, sariawan di mulut, dan berat badan turun merupakan gejala utama jika pasien sudah mengalami infeksi HIV lanjut dan masuk fase AIDS,” kata dia.

Ari mengatakan, cara pencegahan infeksi tersebut hanya dengan berhenti gonta-ganti pasangan dan menyetop gratifikasi seks.

Ia memperingatkan agar orang yang pernah melakukan hubungan seksual, terutama di luar nikah, untuk memeriksa status HIV.

Saran yang sama juga berlaku pada orang yang pernah menggunakan jarum suntik yang tidak steril, atau pernah menggunakan narkoba jarum suntik.

“Semakin dini pasien HIV diberikan obat anti virus atau ARV, semakin cepat bisa menurunkan jumlah virus. Ini juga mengurangi potensi penularan dan tentu akhirnya meningkatkan kualitas hidup orang dengan HIV tersebut,” ujar Ari.  [005-beritasatu]






Twitter TGJ 3
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Cities

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close