Logo The Globe Journal - Original
Promosi Pasang Iklan - Nomor HP Riswan
PT. THE GLOBE JOURNAL, penerbit Koran Online THE GLOBE JOURNAL bertekad untuk terus melakukan inovasi mengembangkan media yang sangat diminati sejak 2007 ini. Untuk itu kami mencari INVESTOR, SPONSOR, PARTNER untuk bekerjasama dengan tim kami dalam mengembangkan bisnis di sektor media, periklanan, printing, teknologi, dan mice yang sangat potensial. Jika Anda tertarik untuk bekerjasama dengan kami, silahkan kirimkan informasi ketertarikan Anda ke email: e.rxdhi@gmail.com atau Hotline 0819-7390-0730. [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda untuk tindaklanjutnya. []

Breaking
News

Serambi»Feature»Runtuhnya Dominasi Film Porno AS/Barat


Runtuhnya Dominasi Film Porno AS/Barat
Gatot Subroto | Pengamat Media/Blogger
Jum`at, 23 Maret 2012 15:43 WIB

Pada masa awal kuliah, saya pernah membawakan materi ini dalam kajian media film. Meski tergolong mentah, namun apa yang saya tulis, memang berdasarkan opini pribadi semata. Di luar dugaan, beberapa peserta merespon dengan baik.

Film Porno/BF/Blue Film/bokep, sudah menjadi bagian tersendiri dalam masyarakat kita, apalagi semenjak maraknya Internet. Nah, apakah anda menyadari bahwa memasuki era tahun  2000-an, selera masyarakat kita terhadap film-film “panas” ini mulai berubah !!

Awalnya, film-film panas dari Amerika/Eropa yang menguasai selera pasaran masyarakat kita, namun menjelang era thn 2000, film panas dari Asia (Jepang khususnya) menjadi dominan. Bahkan sekarang muncul lagi namanya film panas versi “lokal” / format 3gp. Padahal secara kualitas penyajian/visual, kalah jauh dibandingkan film-film panas Amerika/Eropa.

Perubahan besar ini tentunya bukan tanpa sebab, tapi sebelumnya, ijinkan saya membagi skema historisnya seperti ini  (menurut opini/versi saya) :

Tahun 90-an sampai akhir tahun 2000 : Dominasi film panas Amerika dan Eropa. Biasanya mengandalkan pencahayaan yang mumpuni, dibuat mirip film-film hollywood. Ada kesan glamour, memakai model yang seksi, cantik dan terlihat “mahal/superstar”, kebanyakan memakai skenario / bercerita dan kualitas filmnya high quality sama seperti bintang-bintangnya.

Tahun 2000- sekarang : Dominasi film panas Jepang/Asia (Thailand dll), umumnya mengandalkan kecantikan eksotisme wanita Asia. Cenderung pencahayaan yang seadanya (yang penting terang/jadi inget sinetron Indonesia) dan mereka tampil sederhana.

Tahun 2003- sekarang : Dimulai dengan muncul/boomingnya HP-HP bermerk yang harganya murah dan memiliki kemampuan rekam, maka muncul film-film panas lokal yang kontennya berisi orang-orang lokal dalam format visual mendekati keseharian / “real” (kualitas rendah-3gp).

Dari sinilah terjadi perubahan selera masyarakat kita, mereka mulai meninggalkan film-film barat yang cenderung mengeksploitasi wanita sebagai sesuatu yang terlihat seksi, elegan dan “mahal/superstar” menuju ke film asia / lokal yang cenderung apa adanya dan kualitas filmnya lebih rendah dibanding film barat. Tapi dalam konteks masyarakat Indonesia, ini semua punya reason/sebab akibat.

Apa saja pemicunya / faktor-faktornya, sehingga masyarakat kita cenderung menyukai film-film “bokep” Asia / lokal :

1. KOMIK :
Opini saya, semua dimulai dari komik. Dahulu kala “role model” wanita cantik adalah wanita “bule”. Dan kita dicekoki hal ini semasa jamannya Soeharto melalui komik yang kita baca. Beragam komik yang beredar didominasi kultur komik Barat dan ini membetuk figur wanita seksi dalam pikiran masyarakat kita.

Misalnya : Dalam tokoh Asterix, ada tokoh wanita seksi yang menjadi istri dari seorang tua (secara psikologis, ini menimbulkan daya rangsang kecemburuan sosial secara seksual. Kok bisa yah si tokoh tua itu punya istri seseksi itu dan mulailah pembaca berhalusinasi apakah si bapak tua itu bisa kuat melakukan hubungan intim). Atau di tokoh Lucky Luke yang menampilkan penyanyi bar seksi dan masih memakai bingkai barat dalam menonjolkan figur para penyanyi ini, dll.

Anak-anak yang terlahir era 70 dan 80-an, mereka adalah generasi yang dicekoki  komik - komik semacam ini. Belum lagi dalam dongeng-dongeng HC Andersen atau Nina, Walt Disney dll. Saya masih ingat, role model yang ditampilkan dalam komik/cerita-cerita bergambar ini adalah wanita “bule” berpakaian bak putri cantik jelita dan manis.

Hayoo.. berapa banyak dari anda yang tergoda untuk terpikir hal kotor saat melihat gambar Belle (tokoh dalam film Beauty and The Beast-1991) atau Ariel yang pake kutang dari kerang, entah berniat mengumbar keseksian/keterbukaan dadanya atau tidak, yang pasti pada era itu, hal semacam ini masih tabu (The Little Mermaid -1989) bahkan Princess Jasmine yang notabene adalah wanita timur, dibentuk dengan pendekatan wanita “bule”.

Kalaupun tidak tergoda berpikir kotor, minimal anda ingin memiliki figur model istri seperti mereka/menganggap bahwa “role model” wanita cantik adalah mereka, para wanita barat/bule ini.

Tak heran, ketika akses internet mulai masuk tahun 1995, orang-orang muda pertama yang bisa mengaksesnya adalah anak-anak muda yang terlahir di era 1970 dan 80-an, sehingga mereka mencari role model seperti ini saat mendefinisikan wanita cantik dan seksi menurut versi mereka.

Bahkan dalam mencari film panas-pun, pilihan dijatuhkan pada wanita “bule”, seolah menjawab kehausan mereka untuk melihat role model mereka (wanita bule ini) dalam bentuk telanjang dan dieksplorasi secara seksual.

Namun apa yang terjadi, tahun 90-an juga adalah era lahirnya KOMIK JEPANG / MANGA / ANIME.. dahsyat!

Tiba-tiba saja semua komik barat tergeser, pelan tapi pasti, komik Jepang mulai merajai.  Sebut saja dari Dragon Ball (Kita tahu ada tokoh Kakek Kamesenin, si botak yang bernafsu melihat wanita cantik/bugil), atau Shizuka yang tampil imut, pemalu, gadis rumahan, ramah dan manis layaknya wanita-wanita Asia. Dan yang memicu lebih cepat adalah SAILORMOON !!

Gila ngga tuh, wanita Asia (Jepang khususnya) tampil dengan pakaian yang seksi (pakaian sekolah minim), masih ABG dan bentuk tubuh yang seksi bahkan cenderung slim/langsing, tinggi serta putih. Ini memberi tawaran yang berbeda dari “bingkai” seksualitas menurut versi orang barat.

Dan yang paling menarik, mereka membentuk karakter dengan MATA-nya yang bulat, berbinar dan besar. Ini menjadi daya tarik tersendiri (sex appeal). Seperti kita ketahui, wanita asia umumnya sipit dan ini menjadi poin kelemahan bila dihadirkan ke masyarakat luas. Namun dalam komik ini, hadir bentuk lain yang berhasil menutup kelemahan mereka bahkan menjadi daya tarik sendiri. Mereka hadir sebagai wanita yang cute, mata bulat, feminim, ekspresif dan seksi serta modis abis.

Secara tak langsung, kehadiran komik Jepang yang berhasil mengalahkan komik-komik barat ini membentuk role model baru lagi bagi masyarakat kita, yaitu bahwasanya wanita seksi/cantik bukan lagi seperti wanita barat/bule, tapi wanita Asia (khususnya Jepang).

2. KEDEKATAN BUDAYA
Sadar ngga sadar, bahwa sekarang masyarakat senang menikmati film porno bahkan kualitas rendah semacam 3gp, bukan lagi seperti dulu, harus yang seperti film barat dengan setting glamour, kualitas film sangat baik. Kenapa begitu ? Jawabannya mudah, ADANYA KEDEKATAN BUDAYA. Film-film panas barat terasa berjarak sedangkan film-film asia bahkan lokal (3gp), terasa lebih dekat. Alasannya apa ? Ada alasan teknis dan psikis. Berikut alasannya :

a). Dalam film panas Barat, wanitanya cenderung agresif dan dominan secara seksual. Mereka juga sangat menikmati seksual /aktif secara seksual, ini nampak dalam desahan mereka yang cenderung menikmati. Sedangkan dalam kenyataan sehari-hari orang Asia, perilaku seksual mereka masih dalam budaya bahwa wanita adalah “korban” secara seksual, laki-laki adalah pengausanya (Patriarki). Desahannya pun adalah desahan kesakitan layaknya gadis masih perawan.

Mereka tidak aktif, tapi justru pasif, cenderung malu dan merasa canggung.

Dan ini nampak dalam film-film panas Jepang, wanitanya cenderung MALU-MALU, KURANG AKTIF dan MENJERIT KESAKITAN saat melakukan hubungan intim. Jelaslah bahwa mereka hadir lebih real/dekat dengan keadaan wanita asia yang cenderung masih malu-malu secara aktifitas seksual dan bahkan merasa sakit saat melakukan hubungan intim, tidak se-dominan/se-agresif wanita-wanita barat yang cenderung nampak perkasa.

Ditambah lagi dengan budaya asia yang lebih mengunggulkan kaum pria, maka dalam film panas Asia, dimana pria lebih mendominasi dan wanita nampak lemah, malu, innocent, ini terlihat lebih dekat dengan masyarakat kita secara budaya dibandingkan dalam film-film panas dari barat. Bahkan sang tokoh film porno Asia semacam Miyabi saja, kalau bermain film panas, masih terlihat unsur rasa malu dan kesakitannya.

Hal ini diperkuat lagi dengan film-film lokal berformat 3gp yang pelakunya adalah masyarakat lokal sendiri. Disini, nilai ketimurannya sebagai wanita masih nampak dalam cara mereka melakukan hubungan intim merek. Maka semakin terasa “lebih real” / lebih dekatlah dengan budaya penikmatnya, yaitu dalam hal ini masyarakat Indonesia sendiri.

Wanitanya cenderung nampak innocent, lemah dan seolah masih gadis/perawan. Berbeda dengan wanita bule dalam film-film panas, yang seolah-olah wanitanya sudah expert dalam aktivitas seksual dan cenderung “gahar”.

b. Teknis filmnya : Dalam penyajian visualnya, film porno barat cenderung glamour dan elegan sehingga ada kesan bahwa mereka seolah sedang bermain dengan “seorang model / superstar”. Tapi dalam film Asia penyajian visualnya lebih pada pendekatan sehari-hari bahkan dalam film-film 3gp, lebih parah lagi, available light / lampu seadanya dan cenderung remang-remang.

Penyajian visual semacam ini lebih dekat ke keseharian sang penikmat, dimana menggunakan pencahayaan seadanya sehingga tokoh wanita nampak seperti wanita biasa. Apalagi dalam film-film 3gp/lokal yang dibuat dengan HP, tokoh yang bermain adalah wanita lokal. Semakin kuatlah rasa kedekatan ini dan bisa jadi, inilah yang menjadi daya tarik bagi penikmatnya untuk beralih dari keglamoran film panas barat menuju kesederhanaan film asia.

Poinnya adalah budaya asia masih menaruh posisi pria sebagai pihak yang dominan dan wanita adalah pihak yang lemah, semua dibalut dalam rangkaian kesederhanaan. Wanita-wanita Asia bukanlah wanita macam bak model/superstar yang berbodi bahenol nerkom, glamor dan make up tebal, mereka wanita sehari-hari yang sederhana, pemalu, badan cenderung kurus/langsing, lemah.

Itulah wanita-wanita yang dilihat oleh para penikmat dalam keseharian mereka, sehingga ketika pilihan model wanita seperti ini muncul dalam film-film panas asia bahkan lokal, maka jelaslah para penikmat film-film panas dalam masyarakat kita beralih kesana.

Tapi pihak baratpun tidak kalah aksi, mereka sekarang juga mulai menyajikan film-film panas dengan pendekatan keseharian, bahkan candid kamera/avaible lighting. Tapi satu hal yang tak dapat mereka kalahkan yaitu keeksotisme-an Asia dan prilaku seksual wanita Asia dalam melakukan hubungan seksual yang berbeda jauh dengan mereka (barat).

Masih banyak faktor lain misalnya kemudahan akses/download, dimana kita tahu, film barat berkualitas bagus, cenderung berukuran besar/berbayar, sedangkan film asia/lokal, mudah diakses dan didownload ke hp/komputer pribadi mereka dengan ukuran kecil.

Apa yang mau ditekankan dalam penulisan ini ? Bahwasanya film sebagai media penyampaian pesan, mudah sekali dimanfaatkan untuk mengeksploitasi sebuah hal, khususnya yang berdekatan dengan budaya sang penikmat.

Secara negatif, saya tidak mendukung keberadaan film-film panas ini, namun secara apresiasi dan opini pribadi, patutlah para pembuat film kita melihat langkah yang dibuat oleh pembuat film panas ini, bahwasanya mereka tidak membuat film panas yang mengikuti budaya barat. Mereka cenderung menampilkan film panas dengan pendekatan pada budaya Asia yang sesuai kultur Asia meski dengan pengemasan sederhana.

Suatu saat dosen saya pernah berkata bahwa dia heran, setting film/Sinetron Indonesia masa kini, semua disetting seolah mirip di luar negeri atau barat. Jalanan yang nampak biasa, tiba-tiba muncul box telepon warna merah seolah sedang berada di salah satu jalanan di Eropa, padahal si tokoh sedang ada di Indonesia. Bersyukur pada beberapa konten film/TV kita yang masih menggarap nilai-nilai lokal dengan pendekatan lokal.(004-kompasiana)







Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Cities

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
X
BACA JUGA
Close