Logo The Globe Journal - Original
Promosi Pasang Iklan - Nomor HP Riswan
PT. THE GLOBE JOURNAL, penerbit Koran Online THE GLOBE JOURNAL bertekad untuk terus melakukan inovasi mengembangkan media yang sangat diminati sejak 2007 ini. Untuk itu kami mencari INVESTOR, SPONSOR, PARTNER untuk bekerjasama dengan tim kami dalam mengembangkan bisnis di sektor media, periklanan, printing, teknologi, dan mice yang sangat potensial. Jika Anda tertarik untuk bekerjasama dengan kami, silahkan kirimkan informasi ketertarikan Anda ke email: e.rxdhi@gmail.com atau Hotline 0819-7390-0730. [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda untuk tindaklanjutnya. []

Breaking
News

Serambi»Feature»Cumbok, Kisah Kelam 'Perang Saudara' di Aceh


Cumbok, Kisah Kelam 'Perang Saudara' di Aceh
Firdaus Yusuf | The Globe Journal
Senin, 15 April 2013 17:21 WIB

Tak butuh waktu lama bagi Abdurrahman, 72 tahun untuk mengingat kembali tragedi Perang Cumbok, 67 tahun silam. Warga Gampong Cumbok Lie, Kecamatan Sakti, Pidie tersebut  adalah salah seorang saksi hidup revolusi sosial Cumbok.  

Dia mengerutkan dahinya sejenak. Lalu menuturkan masa kelam itu dengan sangat hati-hati pada perang saudara sesama muslim dan sesama etnik Aceh.

“Cumbok adalah perang merebut kekuasaan,” ungkap Abdurrahman membuka bibir mulutnya kepada The Globe Journal, Selasa 28 Maret lalu.

Ketika perang Cumbok pecah, Abdurrahman masih bersekolah di Sekolah Rakjat (SR). Dia banyak mendengar cerita tentang perang Cumbok dari orang tua dan gurunya.

Pria yang uzur ini menyebutkan, perang itu meletus karena adanya perebutan kekuasaan antara kubu uleebalang  dengan tokoh-tokoh ulama yang tergabung dalam Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA)  ketika Jepang kalah dalam Perang Dunia II.  

Ketika itu, sambung Abdurrahman, sebagian ulee balang merasa lebih tinggi kedudukannya daripada PUSA sehingga kaum ningrat itu menolak untuk tunduk kepada PUSA.

Patut dicatat, kaum ulama berusaha mati-matian mengantar Aceh untuk mendukung kemerdekaan Indonesia. Sebaliknya, sebagian ulee balang justru berkeinginan menyambut Belanda agar mereka bisa berkuasa lagi seperti sebelumnya.

“Nagasaki dan Hirosima telah di bom Amerika. Jepang menyerah tanpa syarat pada sekutu. Saat itulah terjadi perpecahan di Aceh. PUSA memilih NKRI dan ulee balang ingin menyambut kembali kedatangan Belanda. Sebagian ulee balang yang lebih berpendidikan dan lebih paham masalah administrasi negara. Oleh sebab itu mereka tak ingin ikut PUSA,” jelas Abdurrahman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Abdurrahman menerangkan, pada dasarnya pimpinan Perang Cumbok, Teuku Muhammad Daud Cumbok yang akrab di sebut Teuku Cumbok berada berada pada posisi sulit. 

Dia tak ingin terjadi pertumpahan sesama anak bangsa. Namun, karena didesak oleh ulee balang-ulee balang lain, Daud Cumbok mau tak mau menjalankan misinya untuk mengambil kembali kekuasaan penuh tanpa campur tangan PUSA.

“Teuku Daud Cumbok tak ingin berperang. Tapi karena dia Gunco (setingkat Bupati) Lammeuloe (sekarang Kota Bakti). Teuku Cumbok pun mempertimbangkan kemauan anak-anak buahnya. Dan perang pun tak bisa dielakkan,” katanya lagi.

Saat ditanyai The Globe Journal mengenai peperangan di Gampong Cumbok dan Kota Bakti, Abdurrahman menelan ludah berulang kali. Pahit untuk mengutarakannya. Masa kelam itu mesti menjadi catatan agar tidak terulang lagi.

“Namanya juga perang, jadi serba menakutkan. Kedua pihak saling membunuh. Tak ada belas kasihan. Armada Cumbok ada dua, Cap Saoh dan Cap Bintang. Cap Saoh itu pasukan perang handal, semacam tentara. Dan Cap Bintang, pasukan penjaga kota. Seperti polisilah kerjanya,” ujarnya.

Abdurrahman mengingatkan kembali lakap lama yang telah lama tak disebutnya, “Tuentera Cap Saoh pinyampuh uteun, Meutareum jeut keu abee (Tentara Cap Saoh sapu hutan, Meutareum pun jadi abu)."

Faktor kemenangan PUSA pada saat itu, menurut Abdurrahman, karena bantuan peralatan perang Jepang.

“Jepang yang membantu PUSA, sehingga bisa memenangkan Perang Cumbok. Pada saat-saat terakhir, meriam di Gle Gapui Pidie diarahkan ke markas pasukan Cumbok di Meunasah Blang, Kota Bakti, tepat mengenai sasaran setelah tiga kali tembak,” ingat Abdurrahman.

“Pada saat itulah pasukan Cumbok kocar-kacir. Dan rakyat yang marah akan perangai mereka membunuh dengan membabi-buta, semua yang terlibat dengan pasukan Cumbok. Termasuk anak-anak laki-laki keturunan ulee balang yang tak bersalah,” lirik Abdurrahman pahit mengenang nestapa saling membunuh sesama anak negeri.






Twitter TGJ 3
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Cities

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close